KETIKA Michel Gondry membawa Joel dan Clementine dalam kelindan ingatan yang terhapus dalam sebuah prosedur penghapusan memori, Yandy Laurens mengirim Jo dan Sore dalam sebuah lintasan waktu yang begitu pipih antara mengulang kesalahan dan memulai sedari awal dengan benar. Kisah-kisah romansa dengan pendekatan-pendekatan fantasi–fiksi ilmiah seperti Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004), atau Her (2013), dan kini Sore: Istri dari Masa Depan, memberikan penyegaran untuk melihat posisi cinta, romansa, dan pasangan dalam bangunan yang janggal.
Joel dan Clementine mungkin saja berkejaran agar tak tertimpa oleh lorong gelap dalam memori-memori yang segera terhapus. Theodore dan Samantha dalam Her mencoba menumbuhkan keintiman di antara manusia dan kecerdasan buatan. Sebaliknya Jo, yang mengasingkan diri ke sebuah kota kecil di Kroasia, Groznjan, 239 kilometer dari ibu kota negara itu, Zagreb, mencoba untuk menuruti kata-kata perempuan asing yang mengaku sebagai istrinya dari masa depan, yakni Sore.
Dalam film yang menjadi remake serial web berjudul sama yang tayang pada 2017 ini, Yandy menaikkan skala produksi judul ini menjadi lebih mewah. Jo yang diperankan Dion Wiyoko tak lagi cepak, kini agak gondrong. Sore bukan lagi dimainkan Tika Bravani, melainkan Sheila Dara, kolaborator lama Dion dan Yandy. Kemewahan film Sore: Istri dari Masa Depan dimunculkan pada pilihan-pilihan latar. Jo, yang merupakan fotografer, berada di kapal pemecah es di Finlandia. Lalu di Kroasia, Yandy bersama Cerita Films menggunakan dua kota, Groznjan dan Zagreb. Meski secara skala produksi lebih mewah daripada serialnya, dunia Sore didesain untuk tetap terlihat intim dengan skala semesta yang hanya menyorot S....

