LAUT Larantuka di Flores Timur terus menghadapi ancaman kerusakan. Penggunaan pukat, racun potas, hingga penjatuhan jangkar kapal merusak terumbu karang yang menjadi rumah bagi ribuan biota laut. Di tengah kekhawatiran itu, seorang perempuan muda, Monika Bataona, bangkit dan memutuskan untuk tidak hanya menjadi penonton.
Bagi Monika yang lahir di Larantuka, 13 Maret 1995, kedekatan dengan laut bukan hanya disebabkan ia lahir di pesisir, melainkan juga pengalaman yang membuka mata. Perjalanan hidupnya berubah ketika ia mengikuti riset hiu paus di Papua. Melihat langsung keagungan laut, sekaligus kerentanannya, membuat Monika menyadari satu hal, laut terlalu besar untuk diabaikan, tetapi akan hilang jika tidak dijaga.
Pulau, lembaga konservasi, dan kampung halaman kemudian membentuk arah hidupnya. Setelah kembali ke Larantuka, ia bekerja bersama sebuah yayasan konservasi laut dan menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat menghadapi tekanan terhadap ekosistem pesisir. Dari sana muncul keyakinan bahwa perlindungan laut tak bisa hanya bergantung pada pemerintah ata....

