EKONOMI

Kemenkeu Yakin Tekanan Inflasi hanya Temporer

Sel, 03 Feb 2026

KEMENTERIAN Keuangan (Kemenkeu) meyakini tekanan terhadap tingkat inflasi hanya bersifat sementara dan bakal normal kembali pada Maret 2026.

“Meskipun sedikit di atas sasaran, tekanan inflasi ini bersifat temporer dan akan normalisasi pada Maret,” kata Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu di Jakarta, kemarin.

Pemerintah, menurut Febrio, berkomitmen menjaga inflasi tetap terkendali pada sasaran, khususnya inflasi pangan pada kisaran 3%-5% di tengah tantangan cuaca melalui penguatan pasokan dan kelancaran distribusi.

"Daya beli terus dijaga didukung stimulus diskon transportasi dan bantuan pangan," katanya.

Selain itu, imbuh Febrio, pemerintah akan terus mencermati dinamika global dan dampaknya terhadap kinerja perekonomian nasional. Dengan demikian, upaya penguatan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor, serta diversifikasi mitra dagang utama melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional akan terus diperkuat.

Apalagi, ia menambahkan, kinerja sektor manufaktur Indonesia pada awal tahun ini menguat bila mengacu purchasing managers’ index (PMI) manufaktur yang tetap ekspansif dan meningkat ke 52,6 pada Januari 2026 dari 51,2 bulan sebelumnya.

“Perkembangan ini menjadi sinyal optimistis sekaligus menegaskan ketahanan serta daya saing eksternal Indonesia di tengah berbagai tantangan domestik maupun global. Pemerintah akan terus memperkuat iklim usaha dan mendorong daya saing industri melalui berbagai langkah, termasuk percepatan penyelesaian hambatan usaha (debottlenecking) guna memperkuat iklim investasi,” ujarnya.

Secara terpisah, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menuturkan tingkat inflasi tahunan (year-on-year/YoY) pada Januari 2026 merupakan yang tertinggi setelah sempat menyentuh 4% pada Mei 2023.

“Inflasi tahunan Januari 2026 sebesar 3,55% (YoY) merupakan yang tertinggi sejak di Mei 2023 inflasinya 4% (YoY),” kata Ateng.

Ateng mengatakan komoditas penyumbang andil inflasi tahunan terbesar pada Januari 2026 ialah tarif listrik dengan andil 1,49%, emas perhiasan 0,93%, ikan segar 0,19%, serta beras dan tarif air minum PAM yang masing-masing memiliki andil 0,14%.

Berdasarkan data BPS, tingkat inflasi tahunan belum pernah lagi menyentuh angka tersebut. Bahkan, tingkat inflasi mencapai di atas 3,5% hanya tercatat sekali, yakni pada Juni 2023 sebesar 3,52% yoy. (Fal/Ant/X-4)

Download versi epaper Download

Advertisement

Advertisement