SEPAK BOLA

Barca dan Mes Que un Club

Rab, 14 Jan 2026

SEPAK bola, seperti hidup, sering kali tidak ditentukan skor. Ia ditentukan sikap. Oleh cara seseorang berdiri ketika kalah dan oleh kesediaannya menunduk walaupun menang. Di titik itulah kisah tentang Xabi Alonso, Kylian Mbappe, Real Madrid, dan Barcelona menjadi lebih dari sekadar cerita lapangan hijau. Ia menjelma cermin. Cermin tentang kuasa, tentang hormat, dan tentang siapa yang sebenarnya sedang memimpin siapa.

Sejumlah media daring menuliskan, setelah Real Madrid tumbang 2-3 dari FC Barcelona di Piala Super Spanyol, Xabi Alonso, dengan ketenangan seorang mantan gelandang yang terbiasa membaca permainan, mengajak para pemainnya memberikan guard of honour. Sebuah barisan sunyi. Sebuah gestur kecil. Namun, justru di sanalah martabat diuji. Ajakan itu ditentang. Bukan oleh manajemen. Bukan oleh suporter. Melainkan oleh seorang bintang, siapa lagi kalau bukan Kylian Mbappe, seorang bintang.

Yang lebih ganjil bukanlah penolakan itu sendiri, melainkan apa yang terjadi setelahnya. Para pemain Madrid, satu per satu, lebih memilih mengikuti suara sang bintang ketimbang suara manajer mereka. Seolah ruang ganti telah bergeser porosnya, dari pelatih ke pemain, dari visi ke pamor, dari kolektif ke individual. Alonso pun sadar, ia tak lagi didengar. Ia hanya pelatih di papan nama, bukan di hati para pemain. Karena itu, mundurnya Alonso dari Madrid bukan sekadar soal kalah kuasa, melainkan soal harga diri. Ketika seorang pelatih t....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement