OTOMOTIF

Benarkah BBM Campur Etanol Buat Korosi Kendaraan?

Jum, 24 Okt 2025

PENELITI Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Ronny Purwadi meluruskan isu di masyarakat mengenai sifat dari etanol, yang disebut-sebut korosif dan tidak baik untuk mesin.

“Etanol memang bersifat higroskopis, artinya bisa menyerap air. Tapi higroskopis bukan berarti korosif,”terang dia di Jakarta, Senin (20/10).

Pemerintah berencana mengimplementasikan bahan bakar E10 mulai tahun depan. Namun, muncul kekhawatiran dari sebagian masyarakat mengenai potensi etanol yang digadang-gadang korosif dan dapat merusak mesin kendaraan.

Ia menjelaskan bahwa dalam campuran bahan bakar seperti E10, air yang masuk akan diserap oleh etanol, bukan oleh minyak. Namun, keberadaan air tidak serta-merta menyebabkan korosi.

Menurutnya, korosi hanya terjadi apabila bahan logam yang tidak dilapisi pelindung atau dibiarkan dalam kondisi lembap terus-menerus.

Ia mencontohkan bahwa air dalam botol minum stainless steel atau pipa yang dilapisi tidak serta-merta menyebabkan karat.

“Hal-hal seperti itu yang memang tidak terekspos sehingga orang pikir higroskopis pasti korosi, belum tentu. Yang jelas kontak dengan air tidak selalu karatan,” ujar dia.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa kendaraan modern saat ini umumnya sudah dirancang untuk kompatibel dengan bahan bakar campuran seperti E10, bahkan campuran kadar etanol lebih tinggi.

“Kalau misalnya mobilnya sudah dipersiapkan dengan baik saya rasa tidak perlu takut,” imbuh dia.

Selain isu korosi, peneliti tersebut juga menyoroti keuntungan lain dari penggunaan etanol, yakni rendahnya kandungan sulfur.

Berbeda dengan bensin yang berasal dari minyak bumi dan mengandung sulfur, etanol memiliki kadar sulfur yang sangat rendah. Oleh karena itu, pencampuran etanol dalam bensin, salah satunya produk E10, dianggap dapat membantu menurunkan total emisi sulfur yang dilepaskan.

Etanol, menurut Ronny, juga menghasilkan emisi CO2 yang rendah, serta tidak meninggalkan residu karbon padat.

“Di Brasil, etanol merupakan bahan bakar yang umum untuk kendaraan, 80 persen flexy-fuel vehicle, di Swedia ini juga sudah umum bahkan digunakan untuk bahan bakar transportasi umum, sedangkan di Amerika Seikat, Eropa, India, dan Thailand juga sudah menargetkan penggunaan E10,”imbuh Ronny.

Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengatakan bahwa kendaraan-kendaraan Toyota pabrikan 2010-2015 ke atas baik yang dipasarkan secara global maupun di Indonesia sudah mampu kompatibel dengan BBM E10.

“Kendaraan itu kan produk global, dan di beberapa negara mereka memang sudah isi etanol sehingga kendaraannya sudah disiapkan untuk itu. Toyota sendiri yang di atas tahun 2015 atau 2010 bisa E10, beberapa model bahkan bisa E20,” ujar Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam di Jak....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement