BENCANA banjir yang melanda Aceh, Sumatra Barat, dan Medan pada Januari awal 2026 kemudian disusul banjir di Purwokerto, Pemalang, Demak, Brebes, Jawa Tengah; serta Cisarua, Bogor, Jawa Barat; merupakan tanda-tanda alam untuk semua umat manusia Indonesia bahwa alam kita tidak bisa dirusak dengan sembarangan. Alam pun dapat mengamuk jika para penghuninya tidak memberikan pelayanan dan perlindungan dengan baik.
Banjir dan beberapa longsor yang terjadi dengan demikian dapat kita baca dalam perspektif teologi lingkungan sebagai bentuk kurang peka manusia sebagai pengelola lingkungan sehingga alam mengamuk. Kerusakan alam sekitarnya disebabkan tangan-tangan manusia yang tamak, rakus, dan kurang berterima kasih kepada Tuhan. Bencana alam memang tidak serta-merta dapat kita katakan sebagai kutukan Tuhan kepada manusia. Namun, bencana alam sebagai pertanda karena manusia itu rakus dan kurang berterima kasih atas ....

