EKONOMI

Bodoh Sekali Kita

Sab, 26 Mar 2022

“JANGAN tepuk tangan karena kita belum melakukan dan itu Rp400 T J lebih nanti betul-betul kita kerjakan, silakan kita semuanya tepuk tangan. Kita hanya minta 40% dulu, udah, targetnya enggak banyak-banyak sampai nanti Mei.’’

Kalimat itu diucapkan Presiden Jokowi Widodo di depan para menteri, kepala daerah, pimpinan lembaga negara, pejabat BUMN, dan pejabat-pejabat lainnya di Bali, kemarin. Acaranya, Aksi Afirmasi Bangga Buatan Indonesia. Kenapa Jokowi melarang hadirin tepuk tangan? Dia sedang kesal, jengkel, marah karena masih ada kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan BUMN yang doyan belanja produk luar negeri.

Selama memberikan pengarahan, mimik Presiden sangat serius. Dia bahkan sampai menujuk kepalanya sendiri ketika mengungkapkan fakta perihal banyaknya barang impor yang masuk ke Indonesia.

Tidak seperti biasanya yang kalem, Jokowi bahkan dua kali mengucapkan kata bodoh. Dia juga mengancam akan me-reshuffle anak buahnya jika ke depan masih gemar membeli produk luar negeri.

Jokowi betul-betul marah kali ini. “Begitu saya lihat pengadaan barang dan jasa. Detail, kalau makro saja enggak bisa target, kita pasti lari ke mana-mana. Sekarang makro, dilihat mikronya dikejar. Sedih saya belinya barang-barang impor semuanya,’’ cetusnya.

Menurut dia, pengadaan barang dan jasa dari anggaran pemerintah pusat sebesar Rp526 trilliun, daerah Rp535 triliun, dan BUMN Rp420 triliun. “Ini duit gede banget, besar sekali enggak pernah kita lihat. Ini kalau digunakan kita gak usah muluk-muluk dibelokkan 40% saja bisa men-trigger growth ekonomi kita, pertumbuhan ekonomi kita yang pemerintah dan pemda bisa 1,5-1,71%. Yang BUMN 0,4%.’’

“Ini kan 2% lebih enggak usah cari ke mana-mana. Tidak usah cari investor, kita diam saja, tapi kita konsisten membeli barang yang produksi oleh pabrik-pabrik kita, industri kita dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), kok enggak kita lakukan. Bodoh sekali kita kalau tidak melakukan ini,” ketus Presiden.

Kebiasaan membeli barang impor, tandas Presiden, justru memberikan pekerjaaan pada negara lain. Padahal, dengan menggenjot penggunaan produk dalam negeri, setidaknya akan membuka 2 juta lapangan kerja di Indonesia. “Kalau ini tidak dilakukan, bodoh banget kita.’’

Jokowi memberikan target pembelian barang dalam negeri hingga Mei 2022 mencapai Rp400 triliun dan saat ini baru mencapai Rp214 triliun. Ia meminta pembelian produk impor tidak diteruskan.

Presiden menyebut beberapa menteri terkait masalah tersebut. Mereka ialah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo; Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim, serta Menteri BUMN Erick Thohir. Sejumlah barang impor juga dia beberkan, seperti CCTV, seragam dan sepatu tentara/ polisi, traktor pertanian, buku tulis, dan tempat tidur rumah sakit.


undefinedSumber: Kementerian Perindustrian/Gernas BBI/Litbang MI

SHARE THIS

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement