KESEHATAN

Hindari Cium dan Cubit Bayi saat Lebaran

Sen, 23 Mar 2026

MOMENTUM lebaran identik dengan silaturahmi dan bertemu keluarga, termasuk dengan bayi dan anak kecil. Namun masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati saat berinteraksi dengan bayi untuk mencegah penularan penyakit.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, Kabupaten Bojonegoro, Rury Dewi mengingatkan masyarakat agar tidak mencium maupun mencubit bayi saat berkunjung pada momen lebaran. Tindakan itu dapat meningkatkan risiko penularan virus maupun bakteri kepada bayi.

Menurut Rury, kulit bayi masih sangat sensitif dan mudah mengalami iritasi. “Bayi memiliki daya tahan tubuh yang masih berkembang, sehingga lebih rentan terhadap infeksi. Mencium atau mencubit bayi saat bertemu di momen Lebaran sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan risiko penularan virus dan bakteri,” kata Rury dalam keterangannya, Rabu (18/3).

Ia menambahkan, ada berbagai penyakit menular yang perlu diwaspadai selain campak. Di antaranya batuk rejan, herpes, difteri, varicella atau cacar air, serta parotitis atau gondongan.

Melalui imbauan ini, Dinkes Kabupaten Bojonegoro mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan anak selama perayaan Lebaran. “Lebaran adalah momen bahagia untuk bersilaturahmi, namun kita juga perlu tetap menjaga kesehatan anak-anak,” imbuhnya.

Lebih lanjut, jika bayi sakit saat Lebaran, prioritaskan kesehatannya dengan konsultasikan dengan dokter anak untuk penanganan yang tepat, pastikan bayi banyak minum ASI atau susu formula, jaga kebersihan lingkungan sekitar, dan hindari mengajak bayi ke tempattempat yang ramai dulu untuk mencegah penyebaran penyakit.


KENALI GEJALA CAMPAK

Dosen Program Studi Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer, Unika Atma Jaya Dr dr Regina Satya Wiraharja, MSc menyampaikan, bahwa campak disebabkan oleh serangan virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae.

Dalam keterangan persnya, Rabu (18/3), dokter lulusan UGM itu mengatakan bahwa virus penyebab campak dapat menular melalui percikan ludah atau ingus penderita yang tersebar di udara saat bernafas, batuk, atau bersin. Setelah masuk ke dalam tubuh, jelasnya, virus penyebab campak akan berkembang biak dan menyebar melalui saluran getah bening, limpa, hati, dan saluran pernapasan.

Menurut dia, masa inkubasi campak umumnya 8-14 hari. Gejalanya muncul dalam beberapa tahap. Pada tahap awal, sekitar 2-7 hari, penderita campak biasanya demam tinggi, badannya lemas, pilek, batuk, serta matanya merah dan sensitif terhadap cahaya.

Dalam beberapa kasus juga dapat muncul bercak khas di bagian dalam pipi yang dikenal sebagai koplik spots (bintik koplik).

Tahapan ruam biasanya muncul pada hari ke-4 hingga ke-14. Ruam kemerahan bisa muncul di area telinga atau wajah kemudian menyebar ke seluruh tubuh dalam 6-7 hari bersamaan dengan demam tinggi. “Apabila seseorang mengalami gejala yang mengarah pada campak, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” kata Regina.

Regina menyampaikan bahwa dalam banyak kasus penyakit campak dap....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement