SETELAH terus terpuruk sejak pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan, kemarin, ditutup menguat 199,87 poin, atau 2,52%, ke posisi 8.122,60. Rencana reformasi pasar modal dan hasil pertemuan otoritas bursa dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) diduga menjadi sentimen positifnya.
Kendati demikian, penguatan itu perlu dibaca secara lebih hati-hati lantaran pada hari yang sama investor asing masih mencatatkan aksi net sell sekitar Rp760 miliar. Fakta bahwa asing masih net sell itu menjadi pengingat bahwa risiko belum sepenuhnya hilang.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyebut hal itu mengindikasikan sentimen memang mulai membaik, tetapi fondasi penguatan masih bersifat awal dan belum kukuh.
"Kondisi ini menegaskan bahwa reli pasar belum sepenuhnya didorong kembalinya kepercayaan asing, tapi lebih banyak ditopang technical rebound, short covering, serta peran investor domestik dan institusi lokal," ungkap Hendra kepada Media Indonesia, kemarin.
KOMITMEN TRANSPARANSI
Senada dengan itu, Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai respons positif pelaku pasar terhadap komitmen transparansi otoritas pasar modal terkait dengan isu MSCI ikut menjadi faktor yang membuat IHSG bergerak naik, kemarin.
"(Dipicu) technical rebound karena sudah oversold dan faktor transparansi dari otoritas dan regulator terkait dengan isu MSCI," ujar Wafi.
Ia meyakini, selama pekan ini, indeks akan bergerak konsolidasi cenderung menguat. Namun, investor asing, menurutnya, masih akan bersikap wait and see terhadap pengumuman MSCI selanjutnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BEI telah mengadakan pertemuan dengan MSCI secara daring, Senin (2/2). Dalam pertemuan tersebut mereka mengajukan proposal solusi kepada MSCI. "Kami sudah memiliki rencana melakukan pemenuhan atas semua isu yang terkait," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, Senin.
MENKEU OPTIMISTIS
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah bersama seluruh regulator pasar telah mengambil langkah dan pendekatan yang tepat untuk memastikan seluruh rekomendasi MSCI dapat dipenuhi sebelum tenggat Mei mendatang. Ia optimistis Indonesia akan mampu memenuhi standar yang diminta.
Karena itu, ia menilai investasi di Indonesia tidak akan menghadapi kendala berarti ke depan. "Berinvestasi di sini seharusnya tidak masalah. Kami akan mengikuti dan mematuhi praktik terbaik global,” kata Purbaya saat Indonesia Economic Summit di Jakarta, kemarin.
Ia juga menegaskan tidak khawatir terhadap kemungkinan penurunan peringkat Indonesia dalam klasifikasi indeks global MSCI. Saat ini, Indonesia berada dalam kategori emerging market dan terancam turun ke kelas frontier market atau pasar praberkembang.
“Tidak (khawatir), karena kondisi kita sedang membaik. Kecuali jika kita mengabaikan peringatan MSCI hingga Mei, kita harus khawatir,” tukasnya.
TEGASKAN REFORMASI
Terkait dengan pemilihan pimpinan definitif OJK, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan proses tersebut tengah disiapkan pemerintah dengan pembentukan panitia seleksi (pansel) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
"Ini berproses karena tentu berdasarkan undang-undang, Menteri Keuangan sedang membentuk pansel," ucapnya.
Airlangga lebih menekankan pentingnya reformasi pasar modal yang tengah disiapkan pemerintah. Salah satu langkah utamanya ialah peningkatan batas minimum saham yang beredar di publik (free float) dari sebelumnya 7,5% menjadi 15%. Selain itu, aturan keterbukaan kepemilikan saham diperketat, dengan menurunkan ambang batas pengungkapan dari sebelumnya 5% menjadi 1%. (Ifa/Ant/X-3)

