SEJUMLAH jalur utama dan alternatif mudik Lebaran di Jawa Tengah terancam oleh bencana longsor dan banjir akibat tingginya intensitas hujan dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan, beberapa ruas dilaporkan terputus dan tidak dapat dilintasi kendaraan sehingga berpotensi mengganggu arus mudik 2026.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, kemarin, cuaca ekstrem tidak hanya memperlambat proses perbaikan jalan, tetapi juga memicu longsor dan genangan banjir di sejumlah titik rawan.
Salah satu ruas yang terputus ialah jalur alternatif Ungaran, Kabupaten Semarang-Mranggen, Demak. Longsor terjadi sepanjang sekitar 250 meter dengan kedalaman mencapai 100 meter. Tebing yang ambrol berada tidak jauh dari permukiman warga, dengan jarak sekitar 20 meter dari titik longsor.
Wahid, 56, warga setempat, mengaku khawatir setiap kali hujan deras turun. “Setiap hari saat hujan lebat mengguyur, kami tidak bisa tidur karena takut terjadi longsor susulan,” ujarnya.
Longsor tersebut tidak hanya mengancam rumah warga, tetapi juga memutus akses warga yang biasa menggunakan jalur alternatif tersebut. Abdullah, 40, warga Mranggen yang bekerja di Kabupaten Semarang, mengatakan kini harus memutar melalui Kota Semarang untuk berangkat dan pulang kerja. “Sekarang harus berangkat kerja 1 jam lebih awal. Jaraknya jadi dua kali lipat dan waktu tempuh lebih lama,” katanya.
TERDAMPAK OLEH BANJIR
Selain itu, jalur alternatif Genuk, Kota Semarang-Guntur, Demak, terdampak oleh banjir yang telah berlangsung berbulan-bulan, khususnya di Desa Bulusari, Kecamatan Sayung, Demak. Kondisi itu diperparah banjir rob yang kerap merendam jalur pantura di kawasan Kaligawe, Semarang, hingga Sayung, Demak.
Aliyah, 55, warga Bulusari, mengaku kesulitan beraktivitas akibat genangan yang tak kunjung surut. “Sudah berbulan-bulan kami kesulitan. Tidak hanya jalur pantura Semarang-Demak yang terendam, jalur alternatif di sini juga ikut tergenang,” katanya.
Beberapa jalur alternatif lain juga dinilai rawan longsor karena berada di kawasan perbukitan dan tebing curam, seperti ruas Sumowono, Kabupaten Semarang-Kaloran, Temanggung, serta Sumowono-Limbangan, Kendal. Jika terjadi longsor saat arus mudik, jalur tersebut berpotensi menimbulkan kemacetan panjang.
PERBAIKAN JALUR ALTERNATIF
Sejumlah daerah mulai melakukan perbaikan untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan saat mudik. Di Kabupaten Cirebon, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) setempat mempercepat perbaikan jalan alternatif.
Kepala DPUTR Kabupaten Cirebon Sunanto mengatakan perbaikan merupakan bagian dari pemeliharaan rutin bidang Bina Marga. “Perbaikan jalan akan dimulai pekan depan. Ini pemeliharaan rutin dan kami targetkan sebelum H-7 Idul Fitri sudah bisa dilalui,” ujar Sunanto, kemarin.
Menurutnya, sedikitnya 16 ruas jalan alternatif akan diperbaiki karena dinilai strategis mendukung kelancaran arus mudik dan balik Lebaran 2026. “Pemeliharaan mencakup seluruh ruas jalan kabupaten guna mendukung kelancaran aktivitas masyarakat selama periode mudik,” katanya.
Kabupaten Cirebon merupakan salah satu jalur utama lintasan pemudik menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Karena itu, pemerintah daerah memastikan infrastruktur dalam kondisi layak sebelum arus mudik dimulai.
PEMBERSIHAN JALAN
Persiapan juga dilakukan di jalur utama pantura wilayah Brebes. Ruas Brebes-Losari yang menjadi perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat mulai dibersihkan untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan.
Pengawas pekerja PPK 1 Tegal, Sunjoyo, 37, mengatakan pembersihan dilakukan dari ruas Kaligangsa hingga Losari. “Pembersihan terutama pada kerikil dan pasir di sekitar pembatas jalan dan bahu jalan. Kalau hujan turun, kondisi bisa licin dan membahayakan pengendara,” ujarnya.
Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum mempercepat pemeliharaan jalan nasional di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Barat. Koordinator Pengawas Lapangan PPK 2.1 Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jawa Barat, Agus Warso, menyebut perbaikan dilakukan sesuai dengan instruksi menteri.
“Kami melaksanakan overlay jalan dalam rangka persiapan arus mudik Lebaran. Instruksi menteri, pada H-7 jalur jalan nasional harus zero hole , artinya tidak ada lubang,” kata Agus.
Di Yogyakarta, Pemprov DIY kesulitan memperbaiki jalan yang rusak menjelang Lebaran karena keterbatasan anggaran. Pasalnya, anggaran tahun ini sangat minimalis. Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menjelaskan anggaran tersebut hanya dialokasikan anggaran untuk kegiatan pemeliharaan rutin jalan. (UL/JI/BB/AT/E-2)

