BEROPERASINYA kereta api wisata Jaka Lalana yang melayani rute Jakarta- Cianjur dinilai bakal berpotensi memberikan dampak positif terhadap laju perekonomian daerah, terutama di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pasalnya, peningkatan jumlah kunjungan wisatawan akan menggerakan berbagai sektor turunan.
Pemerhati ekonomi daerah di Kabupaten Cianjur, Irfan Sophan Himawan, menyebutkan saat ini kontribusi sektor pariwisata terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Cianjur berada pada kisaran 6-7% per tahun. Sementara pada 2023, jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Cianjur mencapai lebih dari 5 juta orang.“
Tentu dengan adanya akses transportasi yang lebih cepat, nyaman, dan langsung dari Jakarta, jumlah wisatawan diperkirakan bakal meningkat 5-10% pada tahun pertama operasional,” kata Irfan yang juga dosen di Universitas Putra Indonesia (Unpi) Cianjur ini, Minggu (30/11).
Dari sisi ekonomi lokal, lanjut Irfan, peningkatan kunjungan wisatawan juga akan menggerakkan sektor turunan. Di antaranya sektor UMKM, khusunya kuliner, kemudian penginapan, transportasi lokal, hingga ekonomi kreatif.
Dari sisi ekonomi lokal, lanjut Irfan, peningkatan kunjungan wisatawan juga akan menggerakkan sektor turunan. Di antaranya sektor UMKM, khusunya kuliner, kemudian penginapan, transportasi lokal, hingga ekonomi kreatif.
“Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), setiap peningkatan kunjungan wisata sebesar 1% biasanya mendorong pertumbuhan pendapatan sektor UMKM hingga 0,3%-0,5% di wilayah tujuan,” tuturnya.
Karena itu, sebut Irfan, jika Kereta Wisata Jaka Lalana mampu menarik tambahan 250 ribu-300 ribu wisatawan dari Jakarta dan sekitarnya, maka estimasi dampak ekonominya bisa mencapai Rp150 miliar-Rp200 miliar per tahun.
Selain itu, konektivitas transportasi ini juga memperkuat integrasi ekonomi Cianjur dengan kawasan Jabodetabek. Akses logistik yang lebih mudah akan menurunkan biaya distribusi komoditas pertanian sebagai sektor yang menyumbang lebih dari 25% PDRB Kabupaten Cianjur. “Sehingga, daya saing produk hortikultura dan pangan ....

