Siang itu beberapa warga duduk santai bercengkrama di lorong bawah kolong tol yang disulap menjadi permukiman. Seperti layaknya kawasan permukiman pada umumnya, berbagai aktivitas warga berjalan normal. Di salah satu sudut, Mama Dila membuka usaha jahit yang melayani pembuatan baju, celana, jaket, ganti ritsleting, memperbaiki kolor suwek, dan sebagainya. Sementara di sudut yang lain seorang pria beruban sedang sibuk memperbaiki sepeda motor vespa merah yang lagi ngadat minta diservis.
Semua berjalan normal tidak ada yang aneh. Bicara soal fasilitas umum, permukiman ini juga terbilang lengkap mulai musala untuk beribadah, kamar mandi, dan TV luar ruang yang bisa disaksikan bersama-sama tersedia di sini. Yang menarik perhatian dari permukiman ini dan menjadi polemik ialah lokasinya yang berada di bawah kolong tol, tepatya di kolong Tol Pluit, Jelambar Baru, Jakarta Barat.
Bila dilihat dari aktivitas ekonomi yang berkembang, warga permukiman kolong tol ini bukan tipe pemalas yang tidak mau bekerja mencari rezeki untuk penghidupan yang layak dan bergengsi. Mereka ialah pejuang kehidupan yang mencoba menggapai mimpi di Ibu Kota negeri. Cuma sayang, kenyataan tidak seindah mimpi.
Berbagai kalangan meminta pemerintah hadir untuk menyelesaikan masalah sosial yang kerap terjadi di kota besar ini. Sebagian mempertanyakan mengapa membiarkan warga mendiami lokasi yang semestinya bukan untuk permukiman dan berharap memfasilitasi mereka untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak huni dan terjangkau dengan uang yang mereka miliki.
Bagaimanapun juga mereka ialah anak kandung negeri ini yang mencoba meraih mimpi. Kota besar dengan berjuta peluang yang ditawarkan memang sangat menggoda orang untuk datang dan mencoba keberuntungan. Apa pun bisa terjadi. Kesuksesan dan kemalangan datang s....

