Berselang 13 tahun dari prekuelnya, Avatar (2009), tahun ini Avatar the Way of Water hadir sebagai capaian sutradara James Cameron dalam menghadirkan sinema tiga dimensi yang lebih detail dan menunjukkan lompatannya secara teknis. The Way of Water mengeksplorasi dunia pesisir dan bawah laut Pandora, meninggalkan hutan hujan yang menjadi latar utama dalam prekuelnya.
Tampilan film dengan bujet sebesar US$250 juta (sekitar Rp3,9 miliar lebih) itu bisa dibilang sepadan. Peningkatan efek visual tiga dimensi dan penerapan frame rate tinggi--48 frame per seconds (fps) alih-alih 24 fps dari kebanyakan film pada sedekade ini--memberikan lompatan jauh dari apa yang belum pernah ada pada layar sinema. Dua unsur itu menyempurnakan visi dunia Pandora ala Cameron. Menghasilkan visual dan adegan-adegan yang lebih tajam.
Sineas Ang Lee juga mungkin pernah mencoba menerapkan teknologi serupa untuk Gemini Man (2019). Namun, apa yang tidak muncul dalam Gemini Man dengan The Way of Water ialah keserasian hasil visual yang ditampilkan dengan nuansa filmnya. The Way of Water mampu menghadirkan sinema imersif yang ....

