“SUKARNO, a diploma may someday crumble and wither away to ashes. It has no immortality. Remember that the only substance which is eternal is a man's character. The memory of it lasts long after he is gone.”
Profesor Ir G Klopper ME, Rector Magnificus di de Techniche Hoogeschool te Bandung—yang menjadi Institut Teknologi Bandung—berharap kepada Ingenieur Sukarno pada momen wisudanya, 25 Mei 1926, agar tumbuh sebagai a man of character. “I never forgot that,” kenang Bung Karno dalam Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams (1965)
Karakter menjadi fondasi utama untuk menggapai kemajuan suatu bangsa. Tidak ada bangsa maju di dunia tanpa fondasi karakter yang kokoh. Dua kekuatan dunia yang sedang bersaing kuat hari-hari ini—Amerika Serikat dan Tiongkok—tidak mencapai kejayaan dengan spontan, tetapi secara gradual dan berlangsung panjang di atas bangunan karakter bangsa yang kokoh.Kejayaan Amerika, kata Profesor Harvard Samuel P Huntington, dalam Who Are We? The Challenges to America's National Identity (2004), berakar kuat pada karakter dan identitas Anglo-Protestan. Kemajuan modern Tiongkok, kata Profesor Harvard Tu Weiming, dalam Humanity and Self-Cultivation: Essays in Confucian Thought (1999), ditopang dengan fondasi k....

