BAGI sebagian warga Batam, pendidikan tinggi belum dipandang sebagai jalan yang memberi dampak langsung terhadap kehidupan ekonomi. Waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk kuliah sering kali kalah cepat ketimbang peluang kerja dan usaha yang tersedia di sektor perdagangan dan industri. Realitas ini mendorong banyak warga, khususnya lulusan SMA dan SMK, untuk memilih langsung bekerja atau berdagang.
Apeng, 24, warga Batu Aji, Kecamatan Batu Aji, Batam, merupakan salah satu contoh. Seusai menamatkan pendidikan SMA, ia memutuskan untuk menekuni usaha pabrik tahu yang dirintis orangtuanya. Awalnya, usaha tersebut dijalankan secara sederhana dengan berjualan dari rumah ke rumah. Seiring waktu, berkat ketekunan dan pemahaman pasar, usaha itu berkembang hingga kini memiliki jalur distribusi ke Singapura. Seluruh pengetahuan usaha yang ia miliki diperoleh secara autodidak, mulai dari pengelolaan modal hingga pemasaran.
“Saya tamat SMA langsung ikut orangtua berdagang. Awalnya cuma membantu kebutuhan harian, tapi karena Batam dekat dengan Singapura dan jalur distribusinya terbuka, usaha pelan-pelan berkembang. Saya belajar menghitung modal, mencari pemasok, dan memanfaatkan media sosial ....

