DI BAWAH langit cerah Pantai Lamawolo, yang juga dikenal sebagai Pantai Wewa, destinasi indah yang terletak di Dusun Lamawolo, Desa Tanahlein, Kecamatan Solor Barat, Pulau Solor, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), suara ombak berbaur dengan percakapan hangat warga yang berkumpul siang itu, Jumat (21/11).
Mereka datang bukan sekadar untuk melihat laut, tetapi untuk belajar dari cara laut dijaga melalui sebuah kearifan lokal bernama muro. Warga Desa Waimatan, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, tampak antusias mengikuti diskusi yang dimoderatori Sherly Maran dan dibuka oleh Direktur Barakat, Benediktus Bedil.
Di hadapan mereka, muro tidak hanya diperkenalkan sebagai tradisi, tapi juga jalan pulang menuju keseimbangan antara manusia dan alam. “Praktik muro tak hanya berdampak pada ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari mitigasi dan adaptasi perubahan iklim,” ujar Benediktus dalam sambutannya.
Di Lamawolo, muro bukan sekadar aturan. Ia hidup dalam sumpah adat—janji kolektif yang mengikat warga untuk menjaga laut, melarang praktik merusak, dan memastikan sumber daya tetap lestari bagi generasi berikutnya. Di sinilah adat dan ekologi saling menguatkan.
ANTARA TRADISI DAN KESADARAN BARU
Diskusi berlangsung dinamis. Tokoh adat, kelompok muro, hingga pokmaswas berbagi cerita tentang bagaimana muro dibentuk, dijalankan, hingga tantangan yang dihadapi. Dari praktik ritual hingga pengawasan wilayah laut, semuanya berpijak pada nilai-nilai leluhur.
Simon, salah satu warga Waimatan, mengungkapkan harapannya. “Kami ingin terus menjaga kearifan lokal ini agar anak cucu kami dapat menikmati hasilnya.”
Antusiasme itu tidak berhenti di ruang diskusi. Di penghujung kegiatan, peserta bersama kelompok muda Lamawolo turun langsung ke laut untuk menurunkan bio reeftek di zona inti muro. Struktur terumbu buatan ini menjadi simbol kolaborasi antara pengetahuan tradisional dan pendekatan ilmiah modern, upaya nyata memulihkan ekosistem laut yang rusak.
Bagi masyarakat Lamawolo, menjaga laut bukan sekadar kewajiban, melainkan warisan. “Kalau kita merusak laut, bagi anak-anak kita besok lusa tidak ada lagi ikan yang baik,” tegas Patrisisius, seorang tokoh adat.
REALITAS YANG MENGKHAWATIRKAN
Namun, di balik semangat itu, fakta di lapangan menyisakan kegelisahan. Hasil penelitian akademisi dari Universitas Nusa Cendana, Kupang, menunjukkan bahwa ekosistem pesisir di wilayah muro Lembata tengah mengalami degradasi. Mangrove menyusut, padang lamun menunjukkan tanda kerusakan, dan terumbu karang mengalami penurunan kualitas.
Setidaknya lima desa, yaitu Lamawolo, Kolontobo, Dikesare, Tapobaran, dan Lamatokan, telah teridentifikasi mengalami tekanan ekologis. Bahkan, sebagian besar komponen penting ekosistem pesisir berada dalam kondisi terdegradasi.
Penyebabnya beragam, dari penebangan mangrove yang tak terkendali, sampah laut yang terus meningkat, praktik penangkapan ikan merusak seperti pengeboman, hingga penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Jejak eksploitasi masa lalu masih membekas hingga kini.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa muro tidak bisa berdiri sendiri. Ia perlu diperkuat dengan pemantauan berkelanjutan, kebijakan yang berpihak kepada lingkungan, juga kesadaran kolektif masyarakat.
MENJAGA LAUT MENJAGA MASA DEPAN
Di tengah ancaman tersebut, muro justru menemukan relevansinya. Ia bukan hanya tradisi lama yang dipertahankan, melainkan solusi lokal yang menjawab tantangan global dari krisis iklim hingga keberlanjutan ekonomi pesisir.
Program DREAMS hasil kerja sama Barakat dan IDEP menjadi salah satu upaya mengintegrasikan kearifan lokal dengan pendekatan ekonomi biru. Harapannya, masyarakat bukan hanya menjadi penjaga laut, melainkan juga penerima manfaat dari laut yang sehat.
Apa yang terjadi di Lamawolo hari itu lebih dari sekadar kegiatan belajar. Ia adalah proses merawat ingatan kolektif, membangun kesadaran baru, dan meneguhkan kembali hubungan manusia dengan alam.
Di pesisir Lembata, laut bukan hanya ruang hidup. Ia adalah cermin masa depan. Dan, melalui muro, masyarakat sedang berusaha memastikan bahwa cermin itu tetap jernih—untuk hari ini dan untuk generasi yang akan datang. (E-2).

