EKONOMI

Negara Kecolongan Gula Rafinasi Jadi Konsumsi

Sel, 19 Agu 2025

KEBOCORAN gula rafinasi ke pasar konsumsi rumah tangga dinilai menjadi penyebab utama rendahnya penyerapan gula petani. Padahal, gula rafinasi seharusnya hanya digunakan untuk kebutuhan industri.

Eliza Mardian, pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE), menyebut praktik ini sebagai persoalan kronis yang sudah berlangsung lama.

“Rembesan mencapai ratusan ribu ton (gula rafinasi) ini menyebabkan banjir pasokan murah di pasar ritel dan menekan harga gula kristal putih (GKP) petani hingga di bawah harga acuan pembelian (HAP) Rp14.500/kg,” ujarnya, kemarin

Meskipun Permendag No. 1 Tahun 2019 secara tegas melarang penjualan gula rafinasi ke pasar eceran, lemahnya pengawasan membuat kebocoran terus terjadi. “Yang diawasi jangan sampling, tapi semua industri,” tegas Eliza.

Ia menjelaskan, rembesan sering terjadi melalui modus pengemasan ulang. Gula rafinasi dicampur dengan gula reject lalu dikemas ulang sebagai gula konsumsi.

Ketidaksesuaian kuota impor dengan kebutuhan industri juga turut memperparah situasi.

“Kalau yang diimpor sesuai kebutuhan, mungkin kebocoran ini tidak akan terjadi,” ujarnya. Eliza menyoroti lima langkah penting yang perlu dilakukan pemerintah: perbaikan tata kelola impor, transparansi distribusi, peningkatan pengawasan, kewajiban pabrik gula BUMN menyerap tebu petani, serta insentif bagi pabrik yang menyerap tebu lokal.

Selain itu, ia menyarankan agar gula lokal diserap pemerintah dan dijual melalui koperasi agar tetap terjangkau oleh masyarakat.

“Gula ini bisa dijual seperti di koperasi merah putih atau koperasi karyawan untuk menjaga daya beli mereka,” tambahnya.

Sementara itu, produk gula lokal dari PT Perkebunan Nusantara Pabrik Gula Candi Sidoarjo menumpuk tidak terserap konsumen.

Tantangan serius menumpuknya stok gula hasil produksi dirasakan PG Gula Candi sejak dua bulan terakhir. Salah satu penyebabnya adalah masuknya gula rafinasi yang bocor ke pasar konsumsi umum. Padahal gula rafinasi peruntukannya adalah untuk industri.

HRD PG Candi, Yoga Aditomo, mengatakan, saat ini pabrik tengah berada dalam masa giling. Artinya seluruh pabrik gula serentak memproduksi gula dari tebu. Namun ironisnya di tengah musim produksi, penjualan justru menurun drastis tidak terserap pasar.

PG Candi selama ini memproduksi sekitar 31 ribu ton gula per tahun, termasuk pembelian tebu dari petani lokal. Namun karena saat ini serapan pasar rendah, gudang penyimpanan mereka kini penuh.

Kondisi itu kemudian diperparah masuknya gula rafinasi ke pasar konsumsi langsung. “Beberapa pelanggan reguler kami yang biasa membeli gula konsumsi kini berhenti membeli. Ternyata mereka beralih ke gula rafinasi, yang harganya jauh lebih m....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement