OPINI

Raksasa Digital, Zakat masih Tertinggal

Rab, 18 Mar 2026

INDONESIA kerap disebut sebagai raksasa digital di Asia Tenggara. Penetrasi internet telah melampaui 80% populasi, transaksi ekonomi berbasis daring tumbuh pesat, dan pembayaran nontunai menjadi bagian dari gaya hidup. Telepon seluler menjelma dompet, pasar, sekaligus kanal distribusi layanan publik. Namun, di tengah kemajuan tersebut, optimalisasi zakat nasional belum menunjukkan lompatan yang sepadan.

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025 mencatat pengguna internet mencapai 229,4 juta jiwa atau 80,66% dari populasi, dengan 98,7% di antaranya mengakses internet melalui ponsel. Infrastruktur digital tersedia, perilaku transaksi telah terbentuk, dan masyarakat kian nyaman dengan ekosistem daring. Ironisnya, kemajuan ini belum sepenuhnya tecermin dalam penghimpunan zakat.

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) memperkirakan potensi zakat nasional mencapai Rp327 triliun per tahun. Pada 2023, realisasi penghimpunan zakat nasional sekitar Rp32,3 triliun—kurang dari 10% potensi. Tahun 2024 meningkat menjadi sekitar Rp41 triliun, lalu target 2025 dipatok Rp50 triliun, dan hingga sekarang belum ada laporan....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement