INTERNASIONAL

Rekaman yang Bocor itu Diduga Berasal dari Singapura

Kam, 07 Mar 2024

DARI sebuah kamar hotel di Singapura, Brigadir Jenderal Frank Gräfe mengikuti konferensi video dengan rekan-rekan sejawatnya melalui platform WebEx. Keberadaan perwira tinggi angkatan udara Jerman itu dalam rangka menghadiri Singapore Air Show yang diadakan pada 20-24 Februari lalu.

Tanpa disangka, isi percakapan konferensi video yang berlangsung pada 19 Februari itu bocor dan kemudian beredar dalam bentuk audio di media sosial Rusia, pada Jumat pekan lalu. Isinya bikin heboh karena sang perwira membicarakan tentang rencana serangan terhadap Krimea, wilayah yang dianeksasi Rusia pada sekitar satu dekade lalu.

Dalam rekaman berbentuk audio (suara) tersebut juga terdengar pembicaraan tentang kemungkinan penggunaan Rudal Taurus buatan Jerman oleh pasukan Ukraina dan potensi dampaknya. Topik pembicaraan dalam rekaman itu, termasuk mengarahkan rudal ke sejumlah sasaran, seperti jembatan utama di atas Selat Kerch yang menghubungkan daratan Rusia ke Krimea.

Isi rekaman pembicaraan yang bocor tersebut juga menyebut penggunaan rudal yang diberikan ke Ukraina oleh Prancis dan Inggris. Ukraina memang telah lama meminta Jerman untuk menyediakan Rudal Taurus, yang dapat mencapai target hingga 500 kilometer (300 mil) jauhnya.

Bocornya rekaman rahasia itu tentu sangat mempermalukan Berlin. Sabtu lalu, Kanselir Jerman Olaf Scholz berjanji akan menyelidiki kasus ini.

Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius mengatakan setelah penyelidikan yang dilakukan oleh Badan Kontra Intelijen Militer Jerman, diketahui percakapan yang bocor itu diduga berasal dari saluran yang digunakan Brigjen Frank Gräfe yang mengikuti konferensi video dari sebuah kamar hotel di Singapura melalui platform WebEx.

Platform tersebut adalah sebuah program komunikasi dari Cisco Systems yang berbasis di Amerika Serikat, yang menyediakan enkripsi end to end sehingga terjamin keamanannya. Namun, jika peserta melakukan panggilan melalui telepon rumah dan bukan menggunakan aplikasi, seperti yang dilakukan Frank Gräfe dari sebuah kamar hotel di Singapura, keamanannya tidak terjamin.

Sebelumnya pada hari Minggu lalu, Pistorius mengatakan dugaan penyadapan itu sebagai serangan disinformasi hybrid yang dilakukan Rusia, meskipun rekaman yang dibocorkan oleh pemimpin redaksi Rusia Today itu asli.

Hal ini tentu menimbulkan kegadunan di parlemen Jerman. Mereka pun mempertanyakan mengenai protokol keamanan militer Jerman. Namun, Pistorius menegaskan bahwa insiden tersebut hanya terjadi satu kali saja. “Sistem komunikasi kami secara keseluruihan tidak terganggu,” katanya, seperti dikutip Politico, Selasa (6/3).

Sementara itu, Juru bicara keamanan nasional Amerika Serikat John Kirby mengatakan minggu ini bahwa kebocoran tersebut adalah upaya Rusia untuk mencoba menabur perselisihan dan mencoba memantik perpecahan di antara sekutu barat.

Inggris juga bereaksi dengan cemas terhadap kebocoran tersebut. Apalagi dari rekaman itu juga dibicarakan bagaimana Inggris dan Prancis mengirimkan rudal jelajah ke Ukraina. "Jika ditanya tentang metode pengiriman, saya tahu bagaimana Inggris melakukan ini. Mereka selalu mengangkut beberapa rudalnya dengan kendaraan lapis baja Ridgeback. Ada beberapa orang di darat," kata seorang dalam rekaman rekaman tersebut yang diduga kuat Brigjen Gafe.

Sebelumnya Scholz secara terbuka juga mengonfirmasi bahwa pasukan Inggris berada di Ukraina membantu pasukan Ukraina menggunakan rudal jelajah Storm Shadow.

Untuk diketahui, saat ini Rusia sedang berperang dengan Ukraina yang didukung sejumlah negara anggota NATO dan Amerika Serikat. Pistorius mengatakan dia telah berbicara dengan sekutunya untuk meyakinkan mereka. “Kepercayaan sekutu terhadap Jerman tetap tidak terpatahkan,” tegasnya.

Juru bicara utama pemerintah Rusia Dmitry Peskov menyerukan penyelidikan penuh atas rekaman tersebut. Dia mengatakan duta besar Jerman untuk Rusia telah dipanggil untuk menjelaskan isi rekaman tersebut, terutama tentang rencana Jerman untuk menyerang Rusia.

“Kami belum mengetahui apakah Bundeswehr (angkatan bersenjata Jerman) melakukan hal ini, apakah atas inisiatifnya sendiri. Jika demikian, pertanyaannya adalah sejauh mana mereka dapat dikendalikan dan sejauh mana Scholz (Kanselir Jerman) mengendalikan semuanya, dan apakah militer merupakan bagian dari pemerintahan Jerman,” kata Peskov, menurut kantor berita milik negara Rusia, TASS, kemarin.
Berbicara di sebuah forum diplomatik di Turki pada Sabtu lalu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan pembicaraan rekaman tersebut menunjukkan Ukraina dan para pendukungnya berupaya agar Rusia kalah di medan perang.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova meminta Jerman segera memberikan klarifikasi atas isi rekaman tersebut. “Upaya untuk menghindari menjawab pertanyaan akan dianggap sebagai pengakuan be....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement