KESULITAN air bersih mendorong Maksum, warga Dukuh Gendono, Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mencoba melakukan pengeboran tidak jauh dari tempat tinggalnya dengan harapan mendapat sumber air bersih yang dapat dimanfaatkan keluarga. Berhari-hari pengeboran dilakukan hingga sudah mencapai kedalaman 180 meter, namun belum menunjukkan ada air mengalir.
Di tengah keputusasaan itu, ketika alat bor masuk lebih dalam tiba-tiba, tersembur cairan yang keluar dari ujung atas pipa. Setelah diamati bukan air seperti diharapkan namun minyak mentah berwarna hitam dan beraroma gas yang cukup menyengat.
“Ini bukan air tapi minyak bumi yang keluar,” ungkap Arifin, salah seorang pekerja.
Meskipun tidak mendapatkan air bersih seperti diharapkan, namun muncul kegembiraan tersendiri karena terbayang pundi-pundi rupiah akan berdatangan seiring semakin banyaknya minyak bumi yang mengalir dari sumur bor. Penemuan minyak ini menghebohkan warga dan mereka meyakini di bawah desa mereka merupakan ladang minyak.
Mereka berharap banyak penemuan minyak ini bisa mengubah penghidupan mereka. Karena dibandingkan ladang pertanian yang tidak banyak menghasilkan dan hanya sekedar cukup untuk bertahan hidup setiap harinya, sumur minyak lebih menguntungkan. Dengan harga minyak mentah dijual ke Pertamina Rp5.200 per liter dalam satu hari dapat menghasilkan 1.000 liter saja sudah terbayang uang yang bakal mereka peroleh.
Penemuan sumber minyak bumi ini, semakin mengundang minat warga lain untuk ikut berlomba-lomba melakukan pengeboran. Hingga di Desa Gandu bermunculan sumur-sumur minyak mencapai 60 titik. Warga yang tidak memiliki sumber ekonomi ikut serta dengan memanggil investor untuk membiayai pengeboran.
Secara berangsur-angsur ekonomi warga terutama pemilik sumur terangkat. Itu terlihat dari rumahrumah mereka yang awalnya dari kayu kini telah berubah menjadi bangunan tembok yang cukup megah. Namun, kegembiaraan warga Desa Gandu tidak lama. Malapetaka muncul yakni salah satu sumur terbakar pada 17 Agustus lalu hingga menelan empat korban jiwa.
Imbasnya puluhan sumur di desa itu dilarang beroperasi dan harus ditutup sampai batas waktu yang belum dapat ditentukan. “Gak tahu lagi nasib kami, selanjutnya karena sumur minyak tidak lagi dapat diproduksi. Kami bertahan hidup dari tabungan sekarang,” ujar Haryono, salah seorang pemilik sumur minyak.
Kepala Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Iwan Sucipto mengungkapkan bahwa sumur minyak yang dikelola warga mulai marak sejak dua tahun terakhir.
“Ada sekitar 60 sumur minyak rakyat, 10 di antaranya berada tepat di tengah pemukiman penduduk dan sudah menghasilkan setiap hari,” kata Iwan Sucipto di Blora, Selasa (19/8).
Ia mengaku sudah berkali kali mengingatkan warganya mengenai bahaya pengeboran minyak di kawasan padat penduduk. Namun imbauan itu sering diabaikan karena hasil minyak dianggap memberi harapan baru bagi perekonomian warga yang sebagian besar b....

