SELEBRITAS

SYAMSUN RAMLI Keterbatasan Jadi Pendorong untuk Berprestasi

Sel, 24 Feb 2026

PAGI hari di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) berjalan seperti biasa. Mahasiswa lalu-lalang menuju kelas, sebagian tergesa, lainnya tampak santai. Di antara rutinitas akademik itu, ada satu sosok yang perjalanannya jauh lebih panjang daripada sekadar jarak antargedung. Namanya Syamsun Ramli, mahasiswa Program Studi Doktor Arsitektur ITB. Di usia yang menginjak 48 tahun, Ramli tampak berjalan tak seperti kebanyakan orang. Meski begitu, semangatnya melampaui banyak batas yang dulu pernah dianggap mustahil.

Tahun 1998 menjadi babak baru dalam hidup Ramli. Saat itu, ia masih mahasiswa semester dua Teknik Sipil Universitas Brawijaya (UB) dan aktif dalam kegiatan mahasiswa pencinta alam. Dalam sebuah latihan panjat tebing untuk persiapan ekspedisi, ia terjatuh dari ketinggian sekitar 17 meter. Benturan itu merusak empat ruas tulang belakangnya di bagian torakal (T5–T8), yang mengakibatkan paraplegia atau kelumpuhan pada tubuh bagian bawah.

“Awalnya saya benar-benar tidak mau menggunakan kursi roda, karena berkursi roda terasa seperti akhir dari segalanya. Namun, waktu mengubah cara pandang saya. Rasa putus asa perlahan berganti kesadaran bahwa ia masih diberi hidup. Setelah dipikirkan lama, ini adalah anugerah Tuhan. Saya diberi kesempat....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement