PEKAN lalu saya mendapat undangan untuk berdiskusi dalam dialog meja bundar yang diselenggarakan Televisi Republik Indonesia (TVRI). Temanya mengenai bagaimana memanfaatkan momentum penunjukan kembali TVRI sebagai stasiun resmi penyiaran pertandingan Piala Dunia 2026 untuk tujuan edukasi, literasi, dan membangun peradaban.
Saya berpandangan, tema diskusi itu sangatlah tepat untuk tidak menjadikan siaran Piala Dunia hanya sebagai sebuah tontonan, tetapi lebih dari itu, bagaimana membangun ekosistem sepak bola yang sehat agar suatu saat kelak kita bisa tampil sebagai negara peserta putaran final Piala Dunia.
Istilah membangun ekosistem menjadi sesuatu yang perlu digarisbawahi karena kita tidak pernah serius melakukan itu. Sepak bola hanya ingar-bingar dijadikan tontonan, menjadi industri untuk kepentingan ekonomi, dan....

