BAYANGKAN alunan suara yang unik dan ritmis menggema di sebuah desa. Suara itu bukan berasal dari gamelang atau kendang, melainkan dari benturan alu (antan) dan lesung (lumpang kayu).
Alunan ritmis itulah yang tidak saja masih menjadi keseharian, tetapi juga ekspresi budaya di Desa Raharja, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Di desa yang terletak di ketinggilan 610 mdpl itu, harmoni dari alu dan lesung itu melahirkan tradisi yang mereka sebut sebagai tutunggulan, sebuah musik yang lahir dari kerja keras dan kebersamaan.
Tradisi tutunggulan juga menggambarkan evolusi dari aktivitas dapur menjadi ekspresi budaya yang kaya makna dan pertunjukan yang dihargai. Di sisi lain, arus modernisasi yang tidak terelakka....

