UNTUK kesekian kalinya, Republik Islam Iran tidak ciut nyali menghadapi gertakan negara-negara Barat, terutama Amerika. Seusai perang 12 hari dengan Israel pada medio Juni 2025, pada ujung 2025, Iran menghadapi cobaan berupa gelombang protes rakyat untuk merongrong kewibawaan negara, terutama terkait dengan isu gejolak ekonomi.
Gelombang protes yang mulai menggelayut sejak akhir 2025 dan awal 2026 ke beberapa kota di Iran itu menjadi batu ujian bagi nasionalisme ekonomi Iran. Amerika dan sekutu mereka tentu berpretensi menggoyang ekonomi Iran. Mereka dianggap sebagai satu-satunya negara di kawasan Timur Tengah yang sulit ditaklukkan. Secara geopolitik, Iran memiliki posisi strategis, jembatan ke kawasan Tiongkok, Asia Tengah, Asia Selatan, dan Rusia.
Karena itu, Amerika dan sekutu mereka mengail kesempatan di tengah situasi ekonomi yang dianggap krisis. Kabar tentang isu memburuknya situasi ekonomi: inflasi tahunan dikabarkan 42,2% (Desember 2025) dan menggerus anggaran rumah tangga. Pada 29 Desember 2025, nilai rial jeblok ke rekor 1,45 juta per US$. Harga pangan dan kebutuhan pokok pun terkerek tajam. Konstelasi masalah itu menjadi titik masuk Amerika untuk mengintervensi, men....

