MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya, ia hadir sebagai jeda atau pendingin di antara deru mesin politik, ekonomi, dan sosial terus berjalan. Ramadan ialah waktu untuk menarik napas dan menengok kembali wajah batin bangsa ini.
Terlepas dari adanya perbedaan penentuan awal Ramadan, yang seungguhnya tak perlu diperdebatkan berkepanjangan, esensi bulan suci umat Islam itu sangat relevan dijadikan ajang refleksi total kehidupan berbangsa hari-hari ini. Esensi puasa Ramadan ialah menahan diri (imsak), sudah sewajarnya pula itu menjadi landasan semua pihak dalam berperilaku.
Kita sering kali lulus dalam ujian menahan lapar dan dahaga di ruang sunyi, tetapi di saat yang sama gagap melakukan 'imsak' di ruang publik. Kesalehan ritual spitirual yang kita jalankan setiap tahun seolah hanya berhenti di tenggorok, tanpa p....

