'JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.
Potongan kalimat itu ramai di media sosial, mengomentari pernyataan seorang alumnus beasiswa negara yang menulis, 'Cukup saya WNI, anak jangan'. Pernyataan pendek dalam video itu bukan sekadar unggahan media sosial. Banyak netizen menyebut pernyataan itu cermin retak yang memantulkan wajah nasionalisme kita hari ini.
Ia 'dihukumi' sebagai bentuk nasionalisme yang rapuh, mudah goyah oleh kenyamanan, dan sering kali salah paham memaknai utang budi. Kasus DS, alumnus penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang kini menetap di Inggris dan mengunggah kebanggaan atas pa....

