SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan. Di dalam keseimbangan energi global, selat selebar kurang dari 33 kilometer di titik tersempit itu ialah urat nadi utama pasokan minyak dan gas dunia. Ia sebuah simpul dagang yang menyatukan produksi energi kawasan Teluk Persia dengan pasar energi Asia, Eropa, dan bahkan Amerika.
Setiap hari, melalui koridor laut sepanjang ratusan mil itu mengalir sekitar 18-20 juta barel minyak mentah dan produk energi lain, atau setara hampir 20% konsumsi minyak global (termasuk kondensat dan LNG). Jumlah itu lebih besar daripada volume minyak yang melalui Suez dan Panama secara terpadu.
Dalam situasi geopolitik normal, aliran minyak dan gas itu mengalir tanpa hambatan. Namun, dalam beberapa hari terakhir, konflik Teluk Persia telah mendorong penutupan total atau fungsional Selat Hormuz. Serangan Amerika Serikat dan Israel yang secara brutal menggempur Iran membuat operator besar seperti Maersk dan Hapag-Lloyd menghentikan pelayaran di area tersebut karena meningkatnya risiko....

