PODIUM

Tepuk Tangan Messi

Kam, 12 Mar 2026

BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama. Namun, ada satu batas yang semestinya tak dilanggar, yakni kemanusiaan dan keadilan.

Itulah yang pada hari-hari ini memantik perdebatan. Masyarakat sepak bola, juga publik dunia, terhenyak ketika megabintang Lionel Messi bertandang ke Gedung Putih bersama klubnya, Inter Miami CF, Jumat (6/3). Dengan berpakaian formal, berbaju putih berbalut jas dan dasi hitam, ia menjadi sorotan. Ia kiranya datang pada waktu yang tak tepat dan mempertontonkan reaksi yang tak tepat pula.

Pertemuan pemenang liga olahraga terbesar di Amerika Serikat dengan presiden AS di Gedung Putih memang sudah tradisi tahunan. Penghormatan itu dimulai sejak 1865. Dari situ, kehadiran Messi bersama klubnya sebagai kampiun Major League Soccer (MLS) atau Liga Amerika Serikat setelah mengalahkan Vancouver Whitecaps pada Desember lalu sebenarnya hal yang biasa. Seremoni yang lumrah. Namun, ia menjadi tak biasa, tak lumrah, lantaran dilakukan ketika dunia sedang disuguhi arogansi luar biasa oleh negara adikuasa semacam Amerika. Arogansi yang secara telanjang dipamerkan Presiden Donald Trump dengan menyerang Iran sebagai negara berdaulat pada 28 Februari lalu. Bersama Israel, AS mengeroyok Iran dan....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement