SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran. Mengapa? Karena mudik memberikan denyut yang berbeda dalam nadi bangsa ini di setiap kali Ramadan mendekati garis finis.
Mudik menjadi sebuah fenomena kolosal yang tak sekadar soal rindu, tapi juga soal redistribusi kemakmuran yang bergerak masif dari pusat-pusat beton menuju ke jantung-jantung desa. Bayangkan, separuh penduduk Indonesia berarak beriringan menuju kampung halaman.
Tahun ini, skalanya bukan lagi sekadar ramai, melainkan juga menakjubkan, yakni lebih dari 144 juta manusia yang bergerak serentak itu. Bayangkan, lebih dari separuh populasi negeri ini (data terbaru dari Dukcapil Kemendagri, jumlah penduduk Indonesia....

