KEMENTERIAN Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air terus melakukan langkah mitigasi terhadap dampak kekeringan pada musim kemarau 2023. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofi sika (BMKG) musim kemarau 2023 ini sudah mulai berlangsung sejak Maret dengan titik puncak pada Agustus-September 2023.
Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Teknologi, Industri, dan Lingkungan Endra S Atmawidjaja mengatakan respons atas kekeringan pada musim kemarau tahun ini pertama-tama diprioritaskan pada pemenuhan kebutuhan air bersih untuk masyarakat. Setelah air bersih terpenuhi, air dialirkan untuk daerah-daerah irigasi atau lahan-lahan pertanian.
Untuk konsumsi air bersih, Kementerian PUPR menerapkan tiga strategi. Pertama, mengoptimalkan sistem eksisting melakukan langkah-langkah cepat/darurat untuk wilayah terdampak. Kedua, membangun sumur bor baru pada wilayah dengan intensitas hujan rendah. Ketiga, melakukan pemantauan terhadap 13 waduk utama untuk memastikan tampungan air tetap optimal.
“Tiga langkah cepat manfaat tersebut. Pertama, melakukan rehabilitasi dan pemeliharaan untuk sumur-sumur yang ada. Kemudian, melakukan pengaturan (buka-tutup) terhadap pintu-pintu air di bendungan dan embung untuk mempertahankan elevasi/muka air, dan yang ketiga, pada kondisi yang sangat ekstrem air sudah kering dan tidak ada cekungan air tanah (CAT), kami berkoordinasi dengan Cipta Karya dan pemerintah daerah untuk memobilisasi air bersih dengan tangki-tangki air,” kata jubir Endra. Kekeringan secara umum berdampak pada pemenuhan kebutuhan air bagi wilayah dengan tingkat intensitas hujan rendah, misalnya Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Maluku, Sulawesi Selatan, dan Papua. Untuk daerah-daerah tersebut, Kementerian PUPR membuat sumur bor dengan terlebih dahulu melakukan pengkajian potensi sumber air tanah.
“Untuk itu, Kementerian PUPR telah membangun 37 sumur bor baru yang tersebar di 19 provinsi. Kemudian, melakukan rehabilitasi 25 sumur bor eksisting di 11 provinsi,” kata jubir Endra.
Kegiatan operasi dan pemeliharaan (OP) terhadap seluruh sumur eksisting yang ada juga dilakukan sebagai pelaksanaan dari program OPOR (Operasi Pemeliharaan Optimalisasi dan Rehabilitasi) oleh Kementerian PUPR. OP dilakukan pada 8.213 sumur bor meliputi 5.457 sumur untuk jaringan irigasi air tanah dengan luas layanan 76.108 ha dan 2.756 sumur air tanah untuk air baku dengan kapasitas 72,02 meter kubik/detik.
Selain pembangunan sumur bor, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, masyarakat Kementerian PUPR juga mengoptimalkan fungsi tampungan air pada bendungan, situ, embung, dan danau. Saat ini tengah dilakukan pemantauan terhadap kondisi 13 waduk utama, yaitu Jatiluhur, Jatigede, Kedung Ombo, Batu Tegi, Wadas Lintang, Wonogiri, Karang Kates, Bili Bili, Wonorejo, Paselloreng, Bintang Bano, Kalola, dan Tapin.
Tercatat per 6 Agustus 2023, volume ketersediaan air dari 13 waduk utama tersebut sebesar 3,73 miliar meter kubik dari tampungan efektif sebesar 5,52 miliar meter kubik. Luas area yang bisa dilayani dari ke- 13 bendungan tersebut ialah 568.074 hektare (ha) dari total 572.485 ha. Kemudian, juga terus menyelesaikan 13 bendungan lanjutan (on going) pada 2023.
Secara keseluruhan kapasitas air yang dapat ditampung bendungan, embung, dan danau di Indonesia ialah sebesar 28,43 miliar meter kubik, yaitu dari 223 bendungan sebanyak 6,73 miliar meter kubik, dari 3.464 embung sebanyak 262,89 juta meter kubik, dan dari 114 danau sabanyak 21,84 miliar meter kubik. Endra menambahkan, untuk antisipasi kekeringan lahan pertanian, Kementerian PUPR secara struktural telah melakukan rehabilitasi jaringan irigasi seluas 412.541 ha.
Kemudian, juga terdapat pekerjaan operasi dan pemeliharaan (OP) daerah irigasi 3 juta ha dan OP 923 sungai. Lahan pertanian yang mengalami dampak kekurangan air pada musim kemarau 2023. Kekeringan itu umumnya dialami pada sawah tadah hujan, sawah irigasi teknis dari bendung yang bergantung pada debit air sungai. Pada 2023, Kementerian PUPR juga mengalokasikan kegiatan revitalisasi dan pengelolaan 15 danau prioritas, operasi, dan pemeliharaan 1.338 embung dan 317 situ, serta operasi dan pemeliharaan air tanah dan air baku sebanyak 1.241 titik dengan rincian 143 titik sumur air tanah, 517 titik air baku, dan 581 titik irigasi air tanah.
Infrastruktur tol
Selain menyiapkan fasilitas air bersih mengatasi kekeringan, pemerintah melalui Kementerian PUPR juga terus mempercepat penyelesaian konstruksi Tol Serang-Panimbang di Provinsi Banten. Diharapkan dengan selesainya pembangunan Tol Serang-Panimbang akan semakin mendorong peningkatan perekonomian masyarakat di wilayah Banten, khususnya melalui sektor pariwisata dan industri. Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan peningkatan aksesibilitas serta konektivitas jaringan infrastruktur tol untuk memberikan kelancaran, keselamatan, keamanan, juga kenyamanan perjalanan.
“Kehadiran tol yang terhubung dengan kawasan-kawasan produktif, seperti kawasan industri, pariwisata, bandara, dan pelabuhan akan dapat mengurangi biaya logistik dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri,” kata Menteri Basuki.
Pembangun Tol Serang-Panimbang sepanjang 83,67 km terbagi menjadi tiga Seksi, yakni Seksi 1 sepanjang 26,50 km yang menghubungkan Serang–Rangkasbitung telah beroperasi sejak 2021. Kemudian, Seksi 2 sepanjang 24,17 km menghubungkan Rangkasbitung– Cileles dengan progres konstruksi hingga awal Agustus 2023 mencapai 52,45%. Untuk Seksi 1 dan 2 menjadi porsi Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Wijaya Karya Serang Panimbang. Selanjutnya, Seksi 3 sepanjang 33 km menjadi porsi pemerintah dengan menghubungkan Cileles– Panimbang, progres konstruksi mencapai 13,84%. Pekerjaan konstruksi Seksi 2 dan 3 ditargetkan selesai pada pertengahan 2024.
Tol Serang-Panimbang akan melintasi beberapa kabupaten di Provinsi Banten, seperti Serang, Le bak, dan Pandeglang dan tersambung dengan Tol Jakarta-Merak. Selain itu, tol tersebut akan mendukung akses menuju kawasan pariwisata Banten dan sekitarnya, seperti Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Tanjung Lesung dan Taman Nasional Ujung Kulon.
Kehadiran Tol Serang-Panimbang juga diharapkan akan mendukung pengembangan ekonomi kawasan Banten Tengah dan Banten Selatan yang semakin dekat dengan Jakarta.
Tol itu akan memberikan kemudahan dan efi \siensi waktu perjalanan, misalnya dari Jakarta menuju Tanjung Lesung yang sebelumnya membutuhkan waktu tempuh sekitar 4-5 jam, nantinya hanya menjadi sekitar 2-3 jam dengan kecep....

