HARI-HARI pertama Rayhan Naufaldi Hidayat mengabdi sebagai dosen di kampus almamaternya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bukan hanya tentang menyiapkan bahan ajar. Ada pesan khusus yang ia terima langsung dari pimpinan kampus. Rektor menitipkan satu amanah untuk menjadi bagian dari kampus yang berproses menuju sistem pendidikan yang inklusif dengan mengaktifkan kembali Unit Layanan Disabilitas.
“Di kampus itu, unit tersebut sempat ada, namun berjalan secara sukarela. Padahal, secara regulatif, unit layanan disabilitas adalah organ formal yang seharusnya hadir dan bekerja sistematis di setiap perguruan tinggi,” ucap Rayhan.
Rayhan ingat betul, saat membuka ruang kantor unit, yang ia temukan bukan aktivitas pelayanan, melainkan sarang laba-laba, meja berdebu hingga listrik yang mati. Tidak menunggu lama, ruangan itu kemudian dibersihkan, direhabilitasi, Bangkitkan Kembali Unit Layanan Disabilitas Kampus tim dibentuk ulang, surat menyurat disiapkan.
Unit itu kini berdiri dengan nama Center for Students with Special Needs (CSSN) atau dikenal juga sebagai Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD). Rayhan dipercaya sebagai koordinatornya.
PERLAHAN MENJADI INKLUSIF
Rayhan menyebut sekitar 35% fasilitas aksesibilitas di kampus baru terbangun setelah dirinya masuk sebagai dosen. Di bawah kepemimpinannya, unit ini terus berbenah.
Lift kini dilengkapi sistem suara dan huruf Braille, toilet disabilitas disediakan hingga perpustakaan mulai dirancang dengan koleksi Braille dan dukungan untuk kebutuhan pendengaran serta akses pengguna kursi roda.
Saat ini, pihaknya pun sedang memulai proses tracking data alias pelacakan mahasiswa disabilitas untuk menentukan layanan, pembinaan, kurikulum hingga sistem yang lebih inklusif. Hingga kini, yang berhasil teridentifikasi masih di bawah sepuluh orang dengan jenis disabilitas netra dan daksa.
Rayhan sadar, jalan mewujudkan keadilan akses dan kesempatan bagi penyandang disabilitas masih panjang. Namun satu hal sudah berubah, jantungnya kembali berd....

