SELAMA ini, narasi tentang penyandang disabilitas netra sering kali berhenti pada stereotip yang sempit. Mereka seolah-olah hanya memiliki celah sedikit, menjadi pemijat, penjual kerupuk, atau staf customer service di sebuah perusahaan.
Profesi tersebut bukanlah sesuatu yang salah atau rendah. Namun, persepsi publiklah yang keliru karena menganggap hanya profesi itu pilihannya, sedangkan pintu lain telah tertutup rapat.
Stigma itu pun seakan runtuh di hadapan Rayhan Naufaldi Hidayat. Ia tidak sekadar melewati pintu yang terbuka, tetapi juga mendobrak dengan memilih berdiri tegak sebagai pengajar di Fakultas ....

