Sejumlah orang tampak mengepalkan tangan ke atas. Mereka berhimpun di atas mobil dan truk bak terbuka, yang berhias bendera Merah Putih di bagian moncongnya. Pemandangan itu dapat dilihat dari lukisan Mohammad Toha Adimidjo yang dibuat pada 1949, dan kini berada di Gedung Atelier, Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda.
Toha, begitu ia akrab disapa, ialah salah satu perupa kenamaan asal Indonesia. Media keseniannya ialah cat air. Sejak usia 11 tahun, Toha sudah mendapat tugas dari realis Tanah Air yang tak kalah kesohor namanya yakni Dullah untuk melukiskan berbagai peristiwa di Indonesia.
Lukisan itu beberapa waktu lalu ditunjukan Kurator Junior Rijksmuseum, Marion Anker dalam presentasi pameran Revolusi! Indonesia Independent yang dilakukan secara daring, Selasa (11/1). Pameran tersebut rencananya dibuka untuk publik 11 Februari hingga 5 Juni mendatang dan dikurasi oleh kurator asal Belanda maupun Indonesia.
Tujuan diadakannya pameran ialah untuk menawarkan perspektif internasional tentang perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia dari pendudukan Kerajaan Kolonial Belanda selama periode 1945-1949. Adapun lukisan yang ditunjukkan Marion tadi, ialah salah satu karya yang dibuat Toha untuk menggambarkan keberhasilan rakyat Indonesia saat merebut kembali Yogyakarta.
“Si kecil Toha, mendapat tugas dari pelukis Dullah untuk membuat lukisan dokumentasi tentang situasi di Yogyakarta. Ketika Yogyakarta mulai diserang Belanda pada 19 Desember 1948, Toha sudah paham apa yang harus dilakukan yaitu mengabadikannya. Tentu saja dia melakukannya secara rahasia. Di jalan membuat sketsa secara cepat dan kemudian di rumah menyelesaikannya menjadi lukisan,” tutur ....

