PEMAHAMAN tradisi cerita Calon Arang di Bali sangat kompleks. Ia berkait erat dengan tradisi budaya, agama, seni, dan tradisi lisan pada masyarakat setempat. Sebagai tradisi lisan, kisah itu pernah menginspirasi Pesta Kesenian Bali pada 1997, dengan menampilkan beragam seni pertunjukan yang terinspirasi dari nilai di dalam cerita tersebut. Lantaran begitu kuatnya tradisi Calon Arang dalam kebudayaan Bali, Dr Hooykaas dari Belanda pernah mengemukakan penelitian tradisi itu hanya dapat dilakukan dan dijernihkan peneliti putra daerah yang memahami latar belakang kebudayaan Bali.
Dalam tradisi lisan, Calon Arang yang hidup pada masyarakat Bali lebih banyak disimpan dalam memori, jarang diceritakan karena mengandung nilai magis dan disakralkan. Cerita itu hanya bisa didongengkan kalangan tertentu, umumnya yang memiliki ilmu (gaib), seperti dalang, balian (dukun), dan orang sepuh yang dipercaya tidak akan terkena vibrasi kekuatan magis. Kalaupun diceritakan dalam bentuk seni pertunjukan, pasti ada yang menjaganya dan memiliki ilmu kanuragan agar pertunjukan itu selamat.
Sementara itu, Calon Arang dalam pentas seni pertunjukan biasanya mengambil sebagian cerita, tetapi ada yang menggabungkan beberapa episode. Jarang ada yang mengambil cerita secara utuh sesuai dengan pemahaman dalam tradisi lisan ataupun tradisi tulis. Secara umum cerita itu dimulai dengan pembuatan pasraman (tempat belajar) di Lemah Tulis. Mpu Bharadah memulai membersihkan dan meruwat bumi tempat pasraman didirikan. Putri Mpu Bharadah bernama Sang Wedawati minta pasraman dibuat di kuburan, tempat ibunya dimakamkan, bahkan Wedawati tidak mau pergi dari kuburan sebelum pasraman dipindahkan. Akhirnya Mpu Bharadah memenuhi kein....

