LAMPU-LAMPU masih berkilau. Suara musik pun terus berdentang. Pameran itu tak ubahnya seperti perayaan. Di balik kemeriahan, para pelaku jasa titip (jastip) melangkah. Mereka datang lebih awal dari keramaian, membawa daftar pesanan yang ringkih seperti doa-doa kecil titipan pelanggan. Di pintu masuk yang sesak, mereka menunggu dengan sabar.
Begitu pameran dibuka, langkah mereka berubah menjadi irama cepat. Mereka menembus lorong-lorong sempit, memotret rak-rak yang memamerkan barang edisi terbatas, lalu mengirimkan gambar-gambar itu ke gawai-gawai yang berjarak puluhan kilometer dari lokasi. Setiap foto yang terkirim melahirkan balasan: permintaan, persetujuan, kadang keraguan. Semuanya dijawab sambil terus bergerak.
Di depan booth-booth favorit, antrean mengular panjang. Di sana, para pelaku jastip berdiri dengan tangan penuh kantong belanja. Namun, mata mereka tetap bekerja: menghitung stok, menilai warna, memastikan setiap pesanan tidak keliru. Dalam keramaian itu, mereka seperti titik kecil yang tetap t....

