SUDAH lebih dari satu bulan ketegangan geopolitik di wilayah Teluk Persia tak kunjung mereda. Eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak lagi bersifat terbatas, tetapi mulai meluas dengan keterlibatan dan respons dari sejumlah negara lain di kawasan maupun internasional. Konflik ini bukan sekadar konflik regional, melainkan memiliki implikasi luas terhadap stabilitas ekonomi global. Ketegangan tersebut berkaitan dengan kepentingan politik, keamanan, pengaruh kawasan, hingga persaingan geopolitik global.
Hingga saat ini, ketegangan tersebut tampaknya belum ada tanda-tanda berakhir, dan bahkan berpotensi berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang. Ketidakpastian ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak lanjutan terhadap perdagangan internasional, stabilitas energi, serta perekonomian global. Situasi ini juga meningkatkan risiko terganggunya rantai pasok dunia yang dapat berdampak langsung pada kenaikan harga komoditas dan tekanan inflasi di berbagai negara.
Meskipun konflik ini terjadi jauh ribuan kilometer dari Indonesia, dampaknya tetap dapat dirasakan oleh negara-negara di Asia Tenggara. Konflik di Timur Tengah telah mengganggu jalur perdagangan internasional, terutama di Selat Hormuz. Saat ini jalur strategis itu tersendat. Pasokan minyak dunia mulai terhambat dan harga energi global cenderung meningkat. Hal tersebu....

