DI sebuah tanah yang jauh dari kampung halaman, di bawah langit Libanon yang tak pernah benar-benar sunyi dari gema konflik, tiga anak bangsa itu berdiri di garis yang paling sunyi, garis antara perang dan harapan akan damai.
Mereka adalah bagian dari misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), wajah lain dari Indonesia di panggung dunia, bukan dengan senjata untuk menaklukkan, melainkan dengan keberanian untuk menenangkan.
Namun, takdir memilih jalan yang paling berat. Praka Farizal Rhomadhon, Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur. Bukan sekadar jatuh dalam tugas, melainkan menggenapkan makna pengabdian, yakni menjaga damai demi dunia, bahkan ketika dunia belum sepenuhnya siap untuk damai itu sendiri.
Sejarah pemikiran manusia telah lama mengingatkan kita bahwa tidak ada perjuangan untuk perdamaian yang benarbenar sia-sia. “Only the dead have seen the end of war,” kata Plato.
Kalimat itu bukan sekadar renungan getir, melainkan pengakuan bahwa mereka yang gugur adalah saksi paling jujur dari harga yang harus dibayar umat manusia untuk mengakhiri perang. Dalam kematian mereka, ada jejak panjang menuju dunia yang lebih tenang.
Seperti keyakinan Immanuel Kant bahwa perdamaian abadi bukanlah mimpi kosong. Ia adalah tugas moral. Sebuah pekerjaan rumah umat manusia yang tak boleh ditinggalkan. Maka, setiap nyawa yang dipersembahkan di jalan itu bukanlah kehilangan tanpa makna, melainkan bagian dari ikhtiar besar peradaban.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Dalam konteks itu, para prajurit yang gugur ini sesungguhnya sedang memperjuangkan sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar menghentikan peluru. Mereka menjaga martabat kemanusiaan.
Sebuah ironi yang tajam, bahwa pertempuran paling layak justru adalah melawan perang itu sendiri. Dan, di sanalah ketiga prajurit itu berdiri, di medan yang tak selalu terlihat, tetapi paling menentukan bagi masa depan umat manusia.
Mahatma Gandhi mengingatkan, perjuangan demi damai selalu lebih besar daripada kemenangan apa pun dalam perang. Maka, gugurnya mereka bukanlah kekalahan. Ia adalah kemenangan moral yang melampaui statistik, melampaui berita singkat, melampaui hiruk pikuk politik global.
Kita mungkin kehilangan tiga prajurit. Namun, dunia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar, yakni pengingat bahwa perdamaian tidak lahir dari kata-kata, melainkan dari keberanian mereka yang bersedia membayarnya dengan hidup.
Gugur bunga prajuritku. Hormat setinggitingginya untuk pengabdian kalian. Dan, karena itu, tidak ada kematian yang siasia di jalan ini. Surgalah di tanga....

