KEHIDUPAN berjalan biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa. Seorang ibu menyapu pelataran warung kelontongnya, anak-anak bermain bola di depan rumah, dan seorang warga menggiring ternak yang menjadi tabungan hidupnya. Di balik kesederhanaan itu, mereka hidup berdampingan dengan zat berbahaya, Cesium-137, unsur radioaktif yang ditemukan di tanah dan udara kawasan industri yang saat ini mereka tinggali.
Paparan radiasi ini pertama kali terdeteksi setelah produk udang beku dari salah satu pabrik di kawasan tersebut dikembalikan oleh Amerika Serikat karena mengandung jejak radioaktif. Sejak itu, petugas menemukan 10 titik kontaminasi dengan tingkat radiasi mencapai 33.000 microsievert per jam — lebih dari 800 ribu kali lipat kadar normal.
Bagi warga, ini bukan sekadar data ilmiah. Ini tentang rasa takut pada yang tak terlihat. Beberapa pekerja dinyatakan terpapar dan harus menjalani pemeriksaan rutin. Pabrik tempat mereka bekerja ditutup, dan sebagian lainnya kehilangan pekerjaan. Pergi pun tidak menjadi pilihan. Rumah mereka ....

