WEEKEND

Gracia Josaphat Jobel Mambrasar: Anak Pedalaman Masuk Istana

Min, 18 Apr 2021

GRACIA Josaphat Jobel Mambrasar atau yang akrab dengan sapaan Billy Mambrasar dikenal sebagai salah satu staf khusus milenial Presiden Joko Widodo. Latar belakangnya memang penuh prestasi. Setelah lulus dari Institut Teknologi Bandung, ia mendapat beasiswa studi di Australian National University (ANU) dari pemerintah Australia pada 2015. Kemudian ia melanjutkan studinya lagi di Oxford University dengan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada 2017. Tidak hanya itu, Billy juga pendiri yayasan bidang sosiopreneur, Kitong Bisa.

Namun, segala kesuksesan itu diraihnya berkat keteguhan mengatasi segala keterbatasan. Hadir sebagai bintang tamu dalam acara Kick Andy Show episode Anak Miskin Membangun Negeri, Minggu (18/4), Billy mengungkapkan lahir dari keluarga sederhana di Yapen, Papua.

Ayahnya ialah seorang guru honorer dengan gaji pas-pasan sementara ibunya harus berjualan kue di pasar untuk membantu ekonomi keluarga. “Kalau saya dulu membantu keluarga berjual kue ya, itu bertahan sampai saya lulus SMA bahkan sampai kuliah, ya untung saya waktu itu 10 sampai 15 ribu kalau tidak salah. Pernah dulu karena saking tidak mampunya saya untuk beli sepatu baru, kalau ke sekolah sepatu saya selalu saya lem sehingga sering diejek sama teman-teman, sepatu mulut buaya,” kenang pemuda yang kini berusia 32 tahun itu.

Billy bahkan tak malu untuk meneruskan kegiatan berjualan kuenya itu saat berkuliah di ITB. Karena memiliki kemampuan menyanyi, ia juga sering ‘mengamen’ di kafe untuk menambah biaya hidup. Bahkan pada 2006, ia memberanikan diri ikut ajang Indonesian Idol di Jakarta.

“Dulu saya sempat daftar Indonesian Idol pada tahun 2006 lalu, saya bahkan sudah sampai 30 besar. Namun, saya gagal. Padahal, saya sudah masuk karantina waktu itu untuk 3 babak lanjutan di Jakarta, tapi enggak jadi. Saya akhirnya gantung mik dan enggak pernah nyanyi lagi. Mungkin karena kecewa. Setelah itu, saya akhirnya kembali Bandung untuk fokus kuliah,” ujar Billy.

Setelah menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, Billy diterima di salah satu perusahaan minyak dan gas terkemuka yang berbasis di Inggris.

Setelah tujuh tahun bekerja barulah ia melamar beasiswa pemerintah Australia dan lolos pada 2015 dan kembali melanjutkan studinya lagi di Oxford University dengan beasiswa dari pemerintah RI. Pada 2019, ia dipanggil Presiden untuk menjadi stafsus milenial.

Di tengah kesibukan studinya, Billy tetap menjalankan berbagai kegiatan Yayasan Kitong Bisa yang ia dirikan 2009. Lewat yayasan ini, Billy dan timnya mengajarkan berbagai macam keterampilan wirausaha dan bahasa kepada anak-anak yang kurang mampu di pelosok Papua.

“Di situ kita memberikan training, memberikan modal, dan kita ajari mereka untuk menjual produk. Rata-rata anakanak yang terlibat di Yayasan Kitong Bisa ini berusia antara 6 sampai 17 tahun. Hingga saat ini cakupan Yayasan Kitong Bisa ini sudah mencapai di beberapa daerah di Papua, seperti Yapen tanah kelahiran saya, lalu di Jayapura, kemudian Fakfak, Raja Ampat, dan terakhir di Sorong,” paparnya.

Dengan adanya yayasan tersebut Billy berharap dapat mengurangi kemiskinan di Papua dengan mengajarkan berbagai macam keterampilan bagi anak-anak Papua. “Perlu diketahui saya mendirikan Yayasan Kitong Bisa ini murni atas kesadaran Indonesia timur, khususnya Papua, di sana anak-anak mudanya belum ada yang memiliki kesadaran untuk menjadi seorang wirausahawan yang mampu menggali potensi yang ada di daerahnya,” lanjut Billy.

“Sebagai stafsus yang membidangi inovasi, milenial, pendidikan, dan entrepreneurship, saya akan terus berupaya mendorong lahirnya generasi muda yang progresif dan inovat....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement