WEEKEND

Hari-Hari Terakhir Tiang Monorel

Min, 02 Nov 2025

PEMANDANGAN Kota Jakarta tak melulu soal gedung tinggi dan kemacetan. Di beberapa jalan utama tampak berdiri deretan tiang beton tinggi yang mangkrak. Bukan sekadar penanda infrastruktur yang gagal, tiang itu merupakan ‘monumen’ dari ambisi besar yang tak selesai, yakni proyek monorel Jakarta.

Proyek tersebut pertama kali digaungkan pada awal tahun 2000-an sebagai simbol modernisasi transportasi Ibu Kota. Tiangtiang penyangga mulai didirikan pada 2008, menjadi awal hadirnya harapan ketersediaan angkutan umum yang efisien dan bebas macet.

Namun, asa itu tak kunjung nyata. Berbagai kendala, dari perizinan, pendanaan, hingga tarik-menarik kebijakan, membuat proyek tersebut mangkrak. Sejak itu, tiang-tiang monorel dibiarkan terbengkalai, menjadi bagian dari Kota Jakarta yang penuh ingar bingar dan kemacetan.

Tiang-tiang monorel itu pun kini menjadi pemandangan di kala macet melanda, dan bahkan menjadi tempat untuk melekatkan poster petunjuk. Di beberapa tempat, dindingnya kini ditumbuhi lumut dan coretan, besinya cokelat penuh karat. Ada juga tiang-tiang yang dihiasi pot-pot tanaman, sementara di sekitarnya menjulang gedung-gedung perkantoran baru dan lintasan MRT yang beroperasi penuh. Kontras ini menegaskan cepatnya Jakarta berubah, sekaligus mengingatkan bahwa tidak semua rencana besar bisa terselesaikan.

Kini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana membongkar seluruh tiang yang tersisa. Langkah itu diambil setelah adanya evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang dan keamanan lingkungan sekitar. Selain karena alasan estetika dan keselamatan, pembongkaran dilakukan demi membuka ruang bagi proyek transportasi lain seperti jalur bus listrik dan pelebaran jalan.

Bagi Pemprov DKI, langkah pembongkaran bukan untuk menghapus jejak ketidakberhasilan, melainkan sebagai upaya menata kembali wajah kota. Besi beton bekas proyek monorel dikabarkan akan didaur ulang untuk proyek infrastruktur lain. Harapannya, proses ini menjadi representasi hadirnya pembangunan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Ini juga menjadi refleksi bagaimana menata kota, merencanakan sampai menuntaskan proyek infrastruktur.

Sekarang waktunya berbenah. Pulihkan kepercayaan publik bahwa ruang kota untuk semua. Bangun kembali cerita penataan k....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement