OPINI

Humility is Endless: Etika Kepemimpinan yang Sering Hilang dalam Politik

Jum, 13 Feb 2026

POLITIK sering riuh oleh slogan, tapi sepi etika. Kita mudah terpukau oleh janji muluk, retorika yang memabukkan, dan klaim kemenangan seolah tanda kelayakan moral. Padahal, ukuran kepemimpinan bukan sekadar menang-kalah, apalagi seremonial dan tepuk tangan.

Etika kepemimpinan selalu bermula dari keberpihakan pada keadilan dan kemanusiaan. Karena itu, ukuran pertama seorang pemimpin ialah seberapa jujur ia menahan diri, tidak menggunakan kuasa untuk memperkaya sanak saudara, dan lingkaran kepentingan. Surah As-Saff ayat 2 menjelaskan ‘lima taquuluuna ma la taf‘aluun’, celaan bagi mereka yang berkata tetapi tidak melakukan.

Di sinilah demokrasi harusnya menemukan makna yang paling substantif. Francis Fukuyama menegaskan pentingnya democratic accountability, demokrasi tidak berarti apa-apa bila tidak disertai pertanggungjawaban. Demokrasi tidak bisa diukur dari pemilu, harus diuji nilai, moral, dan etika. Pertanyaannya, apakah yang punya kuasa itu menang dengan cara etis? Apakah ia jujur menunaikan amanah, terutama untuk me....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement