KABAH yang berada di tengah Masjidilharam di Kota Mekah sebagai kiblat bagi umat muslim sering kali disalahartikan sebagian orang. Hal itu berkaitan dengan arah salat atau beribadah umat muslim yang dianggap sama saja dengan menyembah Kabah layaknya menyembah berhala di zaman nabi. Guna meluruskan argumentasi tersebut, Habib Husein Ja'far Al Hadar menjelaskan Kabah sebetulnya merupakan sebuah perlawanan terhadap berhala.
"Secara filosofis, Kabah artinya persegi. Terbuat dari batu disusun membentuk persegi empat. Warnanya enggak ada yang berarti. Sentuhan visualisasinya juga enggak ada, cuma bentuk kotak. Sangat biasa saja. Tapi ini untuk menunjukkan bahwa Tuhan itu enggak bisa divisualisasikan. Dia maha tak terbatas sehingga tidak bisa divisualisasikan. Kabah menjadi bentuk kritik terhadap berhala yang pada saat itu dibentuk dengan visualisasi warna dan bahan yang begitu keren," ungkapnya dalam Podcast LoginDiCloseTheDor, Sabtu (25/3) malam.
Lebih lanjut, Habib Ja'far mencontohkan pada zaman Nabi Musa, umatnya yang berkh....

