OPINI

Keberanian di Tenda

Sen, 23 Feb 2026

TIDAK semua keberangkatan dimulai dengan surat tugas. Sebagian justru lahir dari sesuatu yang lebih sunyi, dari panggilan hati yang tidak bisa ditunda. Tiga bulan yang lalu, itulah yang dilakukan Febby Gracella Lusikooy, seorang guru dari Sekolah Sukma Bangsa Sigi, Sulawesi Tengah. Tanpa instruksi, tanpa penugasan resmi, ia meminta izin kepada atasannya untuk berangkat menjadi relawan pendidikan di desa terdampak bencana di Aceh.

Ia bahkan telah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Dalam sesi wawancara, ia menyatakan siap jika tidak mendapat ongkos perjalanan pulang-pergi dari Sulawesi Tengah ke Aceh. Ia juga siap jika, sepulang dari tugas relawan, ia tidak lagi menjadi bagian dari sekolah tempatnya mengabdi. Keputusan itu bukan pilihan ringan, melainkan keberanian moral. Ia berangkat dengan satu niat: membantu anak-anak tetap belajar di tengah keterpurukan bencana.

Keputusan Febby, begitu ia biasa dipanggil, memaksa kita bertanya ulang tentang makna menjadi pendidik. Apakah guru hanya mereka yang mengajar di ruang kelas dengan papan tulis yang kering dan atap kukuh? Ataukah guru ialah mereka yang bersedia hadir, bahka....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement