OPINI

Kecerdasan Hibrida Sekolah

Sen, 02 Feb 2026

PENDIDIKAN abad ke-21 menghadapi tantangan bagaimana mengintegrasikan teknologi tanpa mengabaikan nilai kemanusiaan. Kecerdasan hibrida, perpaduan kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan, menawarkan solusi strategis untuk menjawab tantangan tersebut. Penerapannya di sekolah tidak sebatas penggunaan perangkat digital, tetapi juga menuntut transformasi pedagogis yang mendalam. Guru perlu merancang ekosistem belajar kolaboratif agar manusia dan mesin saling melengkapi. Pendekatan ini memaksimalkan potensi peserta didik, mengembangkan berpikir kritis, memperkuat karakter, serta menyiapkan generasi adaptif, etis, dan inovatif menghadapi dinamika masyarakat digital global.

Teori psikologi kognitif tradisional menitikberatkan proses berpikir individu, sedangkan teori kognisi terdistribusi (distributed cognition theory) dari Hutchins (1995) memberi dasar konseptual bagi kecerdasan hibrida. Teori ini menegaskan bahwa proses kognitif tidak hanya terjadi dalam pikiran manusia, tetapi juga tersebar melalui interaksi dengan alat, lingkungan, dan simbol. Dalam konteks pendidikan digital, AI berperan sebagai alat kognitif mutakhir. Ketika siswa menggunakan aplikasi pembelajaran matematika adaptif, misalnya, kognisi terdistribusi terjadi: siswa memahami konsep dan strategi pemecahan masalah, sementara AI membantu mengelola ingatan kerja, menyediakan rumus, mendeteksi kesalahan umum, serta menyesuaikan tingkat kesulitan secara dinamis dan pers....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement