OPINI

Kolaborasi sebagai Fondasi

Sen, 23 Feb 2026

SEMBILAN puluh hari setelah banjir melanda Aceh, beberapa anak kembali duduk di bawah tenda biru yang difungsikan sebagai ruang kelas darurat. Tidak ada papan tulis yang utuh, tidak ada dinding yang kukuh. Namun, proses belajar tetap berlangsung.

Pemandangan itu mengajarkan satu hal penting: pendidikan tidak pernah berdiri sendiri. Ia hidup dari kolaborasi sebab yang terguncang oleh bencana bukan hanya bangunan fisik, melainkan juga rasa aman, harapan, dan bayangan masa depan anak-anak. Pada saat seperti itulah pendidikan darurat menemukan maknanya. Ia bukan sekadar memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung dan bukan pula hanya menggantikan ruang kelas yang hilang. Pendidikan darurat ialah kerja kemanusiaan, sebuah ikhtiar untuk memulihkan manusia, menjaga harapan, dan menegaskan bahwa masa depan masih ada.

Kita bisa membayangkan sebuah sekolah dengan atap bocor, guru mengajar di bawah tenda, dan anak-anak duduk dengan fasilitas seadanya. Dalam kondisi seperti itu, mengapa proses belajar tetap bisa berlangsung? Jawabannya sederhana: karena banyak tangan bekerja bersama. Warga membantu membersihkan lingkungan sekolah, aparat desa membuka jalur distribusi bantuan, relawan mengatur kegiatan anak, orangtua memastikan kehadiran, dan guru menjaga ritme pembelajaran. Tidak ada yang menonjol sebagai pahlawan tunggal. Ke....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement