Pasar, tempat orang bertransaksi jual beli, bukan sekadar aktivitas sosial-ekonomi tapi juga seni. Setidaknya itulah yang dilihat oeh Afriani kala dirinya mengunjungi Pasar Ajibata, di kawasan Danau Toba, Sumatra Utara, beberapa tahun silam.
Semua aktivitas di pasar itu direkam dalam memorinya yang kemudian dia tuangkan di atas kanvas menjadi lukisan berjudul Pasar Ajibata. Pada lukisan berdimensi 60x50 cm dan bertarikh 2022 itu. tampak sejumlah orang yang umumnya para ibu, sedang beraktivitas di pasar tersebut.
Ada ibu yang yang menggendong anaknya sambil melihat ikan yang dijual oleh seorang ibu yang memakai tutup kepala. Ada pula seorang ibu dengan perawakan berbadan cukup besar sedang memegang kantong ikan dan tampak menawar harga ke penjual. Ibu lainnya tampak membawa kantong-kantong berisi belanjaannya di pasar diikuti seorang pria di belakangnya.
Karya Afriani tersebut dihadirkan di pameran We Are Still Artists After The Pandemic yang digelar di Bellevue Art Space, Cinere pada 19 April-10 Mei 2022. Selain karya Afriani, ada puluhan karya lainnya di ajang ini.
“Luar biasa ibu-ibu, setiap hari berpikir tentang apa yang harus dimasak, terus bagaimana anak juga harus dibawa. Sebetulnya itu dunia ibu-ibu, dunia perempuan. Di pasar itu kalau saya perhatikan rata-rata ibu-ibu yang beli, yang sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka,” ujarnya saat ditemui Media Indonesia di acara pembukaan pameran, Selasa (14/4).
“Saya memang tertarik dengan objek-objek sosial. Jadi, pasar Ajibata saya lihat menarik karena di situ masih terpelihara, dia punya properti kayak payung segala macam, itu memang Indonesia banget. Keunikan kita dibanding negara-negara lainnya juga, kita punya pasar-pasar tradisional,” lanjutnya.
Wanita kelahiran Selayo, Sumatra Barat ini mengunjungi pasar tersebut pada sekitar 4 atau 5 tahun silam. Ia memang kerap ‘hunting’ untuk mencari objek karyanya untuk lebih mengetahui apa yang akan dibuatnya. Afriani mengungkapkan jika dirinya lebih banyak berkarya sesuai pengalaman empirik.
Di sudut yang berbeda, tampak karya seniman perempuan lainnya dipajang. Karya bertajuk Semerbak dengan cat akrilik di atas kanvas berdimensi 120x90 cm itu hasil goresan Nasya Patrini. Dalam karya ini tampak seekor naga yang mencolok di tengah lukisan dan berwarna paling terang.
“Kita orang Asia keren banget, dari alam, budaya dan semua aspek. Di sini, aku mau ngasih tau, naga yang semangat keluar di tengah terus nyebarin bunga-bunganya ke seluruh dunia,” jelasnya dalam kesempatan yang sama.
Setelah menelusuri ke bagian yang lain, ada karya dari Bambang Asrini Widjanarko yang menggambarkan jejak digital yang mengancam. Ia membuat simbol dengan gambar kaki yang seperti dipelintir dan api di atas kanvas berukuran 60x40 cm, tarikh 2015-2022 dengan drawing mixed media dalam karya berjudul Jejak Digitalmu, Harimaumu.
“Saya melihat fenomena 5-6 tahun ini munculnya hoaks, manipulasi data di dunia siber terus kemudian berbagai hal yang berhubungan dengan kebenaran, itu menjadi dipertanyakan ulang. Ini adalah bagian ketika pandemi memuncak, pada saat yang sama terjadi misinformasi dan manipulasi informasi,” katanya.
Koordinator penyelenggara pameran, MS. Untung sekaligus juga seorang seniman yang memamerkan karyanya yang berjudul Cucilah yang Bersih! (termasuk isi dalamnya) di atas wooden washboard atau papan cuci kayu berukuran 39x60 cm dengan cat akrilik. “Intinya jangan hanya wujud luar, tapi isi juga harus dibersihkan, pesannya sebetulnya ke sana. Ini lebih ke pesan moral,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa karya-karya yang ditampilkan di pameran yang diikuti oleh 24 seniman yang mewakili beberapa komunitas dengan 24 karya ini ialah karya yang dibuat di masa pandemi. Tak hanya lukisan, tapi juga ada seni patung yang ditampilkan di pameran ini. Salah satunya patung berjudul C19O2EXI(S)T karya Lenny Ratnasari W yang berukuran 98x62x62 cm, berbahan dasar poliester dan kain. Dalam karya tersebut, ia membaca ulang tulisan Shindunata yang dipublikasikan di harian Kompas edisi 24 Juni 1993 yang kemudian diaplikasikannya ke dalam karya dengan melihat situasi kekinian.
Dalam tulisanmya di Kompas, ‘Ketika Dewi Sri sudahPergi’, Shindunata menjelaskan simbol kesuburan, kehidupan, sekaligus penderitaan. Dia mengaitkan sosok Dewi Sri sebagai perempuan laiknya Bumi yang memberi kehidupan dan kesuburan, tetapi sudah pergi. “Kita harus berdampingan dengan situasi dan melakukan hal-hal yang semestinya kita lakukan,” kata Lenny saat dihubungi Media Indonesia pada Kamis (21/4).
Sebanyak 24 karya yang dipamerkan di pameran ini menjadi bukti bahwa seniman masih berkarya selama pandemi hingga saat ini.
“Estetika merupakan gubahan personal yang dapat disajikan dalam kenyataan secara luas. Melalui karya seni sebagai representasi dari estetika, memperlihatkan bagaimana pernyataan dapat dilantunkan bersama dalam ruang terbatas,” kata Frigidanto Agung, selaku kurator pamera....

