OPINI

Masa Depan Arab

Sel, 17 Mar 2026

AGRESI AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari membawa bangsa Arab ke simpang jalan. Iran menjadikan pangkalan militer AS di monarki-monarki Arab yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) –terdiri dari Oman, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, dan Kuwait– plus Irak dan Yordania sebagai target serangan. Belakangan, merespons serangan AS-Israel ke infrastruktur sipil Iran, seperti sekolah, rumah sakit, depot minyak di Teheran, dan bank, Iran membalas dengan menyerang kilang-kilang minyak GCC.

Di pihak lain, AS sebagai pelindung keamanan mereka, tak mampu berbuat apa-apa. Memang selama empat hari pertama perang, di luar dugaan, seluruh aset militer AS yang canggih dan mahal hancur diterjang drone dan rudal Iran. Sementara AS lebih memprioritaskan agenda Israel di bawah PM Benjamin Netanyahu. Terlebih, GCC telah berusaha melobi Presiden AS Donald Trump agar tidak melancarkan perang terhadap Iran. Trump tidak menggubris. Lobi Netanyahu yang didukung miliarder zionis di AS lebih didahulukan.

Kendati demikian, GCC tidak mampu melepaskan diri dari pengaruh AS dan Israel. Maka, pada 11 Maret, kita menyaksikan DK PBB mengeluarkan resolusi yang disponsori GCC yang mengecam Iran dan menyerukannya berhenti menyerang anggota GCC dan Yordania tanpa menyebut AS-Israel sebagai pemantik perang. Karena itu, Tiongkok dan Rusia, sahabat Iran yang juga anggota tetap DK PBB, memilih tidak ikut voting. Tampaknya resolusi ‘pro-AS-Israel’ ini hasil desakan Washington dan Tel Aviv untuk mendapatkan legitimasi moral regional dalam menekan Iran, s....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement