LABBAIKA Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Aku memenuhi panggilan- Mu ya Allah.
Aku memenuhi panggilan- Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu.
Talbiah itu menggema mengiringi langkah jutaan manusia dari segala penjuru dunia. Semuanya berpusat pada satu sumber cahaya yang sama, Masjidil Haram dan Kabah di dalamnya. Sembari melangitkan doa, orangorang bersimpuh, bersujud, dan menatap Kabah dengan mata yang basah. Langkah tawaf seolah meleburkan segala kompleksitas masalah kehidupan. Pada momen itulah, detik-detik ketika manusia merasakan kedekatan yang luar biasa dengan penciptanya. Ia serupa tarikan dan aliran darah.
Di kota suci itu, pada cuaca akhir November yang sejuk bersahabat, pemeluk Islam dari berbagai penjuru dunia datang membawa ribuan harapan dan kerinduan terdalam. Mereka bersama dalam ikatan yang menyatukan, ikatan cinta kepada Allah dan Rasulullah. Tidak ada sekat yang memisahkan; sekat warna kulit, bahasa, bendera, apalagi sekat miskin kaya.
Mekah, Masjidil Haram, dan Kabah di dalam sejatinya bukan sekadar tempat lautan manusia untuk menguatkan ketakwaan. Itu rumah bagi jiwa-jiwa yang bermuhasabah, mengekalkan keimanan, melepas kerinduan, juga merekam kenangan. Kota suci itu selalu punya cara untuk mendekap hati, meninggalkan jejak yang aba....

