JALAN berliku di lereng Pasirwangi, Garut, membawa kami menuju Desa Sarimukti, sebuah desa agraris dengan udara sejuk, dan hamparan kebun hijau di lereng perbukitan. Namun, di balik ketenangan lanskapnya, desa itu menghadapi persoalan klasik yang banyak dialami desa-desa lain di Indonesia, yakni badan usaha milik desa (BUM-Des) yang vakum, potensi ekonomi lokal terfragmentasi, dan kelembagaan yang belum sepenuhnya berjalan. Persoalan itu menjadi titik mulai perjalanan panjang menuju ekonomi sirkular desa.
Sejak 2024, tim pengabdian masyarakat dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung (SAPPK ITB) bersama Perkumpulan Inisiatif mulai mendampingi BUM-Des Sarimukti melalui program bertajuk Reaktivasi dan Penguatan BUM-Des. Program itu tidak hanya bertujuan menghidupkan kembali lembaga ekonomi desa, tetapi juga menata ulang dasar-dasar tata kelola, membangun kapasitas manusia, dan mengintegrasikan potensi antarunit usaha agar menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan. Dengan dukungan aktif pemerintah desa, kegiatan itu menjadi ruang belajar kolektif antara akademisi, masyarakat, dan pemangku kebijakan lokal dalam membangun model ekonomi yang berakar pada potensi desa.
Tahun pertama pendampingan difokuskan pada pembenahan kelembagaan dan penyusunan dokumen dasar, seperti anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART), prosedur operasional standar (standard operating procedure/SOP), dan rencana aksi bisnis. Proses itu disusun melalui metode partisipatif menggabungkan hasil desk study, diskusi daring, dan lokakarya tatap muka di balai desa. Pendekatan itu membuat setiap anggota BUM-Des memahami kembali peran mereka, mulai pengawas, sekretaris, hingga pengelola unit usaha. Lebih dari sekadar memenuhi syarat administratif, penyusunan itu menjadi momentum refleksi tentang makn....

