HUMANIORA

Mengunjungi Pusat Syiar Islam Abad 18 di Masjid Jami Palu

Kam, 14 Apr 2022

SEORANG pria bertubuh kekar tampak khusyuk dengan tasbih di tangannya. Mengenakan pakaian serbaputih dengan surban melingkar di leher, ia mengambil posisi duduk bersila tepat di saf pertama. Mulutnya terlihat terus bergerak membaca zikir. Pria bernama Muh Asdy, 42, itu baru selesai melaksanakan salat Asar berjemaah bersama warga lainnya di Masjid Jami, Kelurahan Baru, Kecamatan Palu Barat, Palu, Sulawesi Tengah.

Setiap Ramadan berlangsung, Asdy sering datang beribadah salat di masjid itu. Meski rumahnya jauh, hal itu tidak mematahkan semangatnya untuk datang beribadah. “Hampir setiap Zuhur dan Asar saya salat di masjid ini. Kenapa sering ke masjid ini karena nyaman digunakan dan masjid ini menyimpan banyak sejarah tentang syiar Islam yang perlu kita ketahui,” imbuh Asdy.

Masjid Jami menyimpan banyak cerita tentang syiar islam di Palu. Masjid Jami merupakan masjid yang pertama dibangun di Palu pascamasuknya Islam di kota itu pada abad ke-17. Islam saat itu dibawa seorang ulama asal Minangkabau, Sumatra Barat, Syekh Abdullah Raqi atau lebih dikenal dengan nama Datuk Karama. Kemudian, ia bertemu dengan seorang tokoh di Kelurahan Baru bernama H Bora Hima. Datuk Karama menjelaskan soal Islam lalu mengislamkan H Bora Hima. “Setelah H Bora Hima beragama Islam, ia kemudian membangun masjid ini bersama warga sekitar pada tahun 1812. Masjid ini dibangun sebagai tempat berdakwa untuk mengajak warga Palu lainnya masuk Islam,” cerita Ketua Badan Pengurus Masjid Jami H Hardi kep....

Belum selesai membaca berita ini ? Selesaikan dengan berlangganan disini Berlangganan

Advertisement

Advertisement